Tuesday, August 11, 2009

HARI BERLALU TANPA ARTI

Assalamualaikum wR wB

Kontribusi dari Akhrudianto

“Hiduplah semaumu, kamu pasti akan mati. Cintailah siapa saja yang kamu
suka, kamu sendiri akan menjauhinya. Berbuatlah sekendakmu, pasti
mendapatkan balasannya dan kamu sendiri yang bertanggung jawab”.
(Hr. Thabrani)

Sahabat, telah panjang perjalanan yang kita lalui, tak terhitung berapa
tempat telah kita singgahi, tak tergambar berapa jumlah hari-hari yang
telah terlewati dan tak dapat kita ketahui berapa desah napas yang
keluar dari mulut kita setiap hari. Sungguh, kalaulah bukan karena
anugerah dan limpahan kasih sayang Allah, tak mungkin kita mampu
melawati semua keindahan itu. Tetapi disekian begitu banyaknya orang
yang bersyukur, tidak kalah banyaknya orang yang kufur. Disekian
banyaknya orang yang taat, tidak kalah hebatnya orang-orang yang sesat
dan disekian banyaknya orang-orang yang merambah kejalan taubat, masih
terlihat juga orang-orang yang tetap dalam maksiat.

Telah berlalu begitu banyak peristiwa yang kita saksikan. Seperti;
hancurnya setiap kepongahan, leburnya tirani kesombongan bahkan
peristiwa kematian yang mengharukan. Namun semua kejadian itu tak jua
membuat kita bergerak untuk merenungkannya, sepertinya itu hanya
rangkaian tragedi hidup yang biasa; seperti drama panggung yang
dipertontonkan. Renungkanlah nasehat Imam Hasan Basyri: “Wahai anak
Adam, sesungguhnya kamu hanyalah merupakan kumpulan dari hari-hari,
setiap kali hari berlalu akan berlalu pula bagian umurmu”.

Sahabat, para ahli bijak mengungkapkan; manakala manusia dibangkitkan
dari kubur dan dipaparkan apa yang telah di perbuatnya untuk diberikan
balasan, ahli surga akan dimasukan ke dalam surga dan ahli neraka akan
di masukan kedalam neraka. Saat itulah mereka yang di masukan kedalam
neraka berharap kalau-kalau mereka dikembalikan lagi ke dunia untuk
berbuat baik, tetapi semua itu hanyalah kesia-siaan. Karena masa
berbuat kebaikan telah habis dan saat pembalasan telah datang. Sejalan
dengan ungkapan Allah lewat firman-Nya:

“Dan orang-orang kafir bagi mereka neraka jahannam; mereka tidak di
binasakan sehingga mereka mati dan tidak )pula) diringankan dari mereka
azabnya. Demikianlah Kami membalas setiap orang yang sangat kafir. Dan
mereka berteriak di dalam neraka itu: “Ya Rab kami, keluarkanlah kami
niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang
kami kerjakan”. Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa
yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah
tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan ?. Maka rasakanlah (azab
kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun”.
(Al-Fathir:36- 37).
Apa yang dapat kita ambil dari sumber yang maha benar ini. Sebuah
peringatan dari yang maha benar, yaitu penyesalan dipenghujung hari,
tetapi tak ada lagi kesempatan untuk memperbaiki diri, dan kita tak
lagi mungkin dapat kembali. Allah telah culup memberikan kesempat
kepada setiap manusia yang memungkinkannya melaksanakan apa yang telah
diwajibkan-Nya. Maka akibat dari kelalaian itu, hanya penyesalan yang
kita dapatkan, hanya kesengsaraan yang kita rasakan dan kesakitan yang
selalu kita dapatkan. Bertaubalah sebelum azal datang menjelang.

Sahabat, dalam pertukaran malam dan siang, ada pelajaran yang
seharusnya kita pikirkan, ada kebaikan yang mestinya selalu bertambah
dalam keseharian, dan ada kesadaran yang sejatinya semakin kita
perlihatkan. Sebab setiap bergulirnya hari, tetapi tak ada perbaikan
pada diri, berapa lamapun kita hidup semuanya tidak akan mempunyai
arti. Para ulama menganggap, suatu pengingkaran terhadap nikmat dan
pendurhakaan terhadap zaman, apabila hari berlalu tanpa dapat
dimanfaatkan untuk meraih kebaikan. Seorang penyair berkata: “Bila hari
berlalu dihadapanku, sedang aku tidak dapat mengambil petunjuk dan ilmu
darinya, maka ia bukanlah umurku”

Semoga Allah menjadikan kebaikan pada hari-hari yang terlewati,
menghadirkan kemudahan bagi jiwa untuk selalu mensucikan diri,
mengampuni setiap kelalaian yang kerap menyelimuti hati. Abu Bakr
Ash-Shiddiq ra selalu berdoa; ”Ya Allah, janganlah Engkau membiarkan
kami dalam kesengsaraan, dan janganlah engkau menyiksa kami karena
kelalaian, serta janganlah Engkau menjadikan kami termasuk golongan
orang-orang yang lalai”.

Tinggalkan Jubah Kemunafikan

Assalamualaikum wR wB

Kontibusi dari Hasan Al Atas


Hidupkan Kebersamaan Memerangi Sifat Munafik
Unsur yang paling penting dan diinginkan oleh setiap manusia adalah kebahagiaan. Kata para psikolog, faktor pendukung kebahagiaan itu adalah terpenuhinya secara sempurna kebutuhan material dan spritual manusia. Kondisi ruhani seperti ini memberikan kebesaran dan kemurnian kepada kehidupan, dan membimbing manusia menuju ke puncak kemuliaan dan keluhuran. Secara fitrawi semua manusia mempunyai kesamaan dan harapan (das saint dan das sollen). Tetapi mereka berbeda untuk mengapresiasikan kemampuan berfikirnya. Kebiasaan dan wataknya pun berbeda, sehingga berpengaruhi secara langsung dalam setiap proses interaksi sosial. Pada tingkatan selanjutnya akan membedakan kedudukan dan status sosialnya.

Secara sunnatullah manusia ditugasi oleh Allah Swt di alam ini untuk berusaha mengembangkan kreatifitas dan menumbuhkan kesadarannya. Pengembangan wawasan berfikir akan meningkatkan pengetahuan dan memperkuat ruhaninya untuk mencapai kesempurnaan. Rasulullah saw bersabda, “Hendaklah engkau menjadi pemilik ilmu, atau penjaga ilmu, atau pendengar ilmu atau pencari ilmu dan janganlah kamu menjadi perusak ilmu.” Dengan demikian manusia berada di dunia ini untuk membekali dirinya guna memenuhi berbagai tugas kewajibannya. Pemilikan terhadap ilmu akan membangun suatu kepribadian yang sehat dan jujur, dan akan berbuat di atas jalan kebahagiaan. Seorang yang bekerja dengan kesungguhan pada jalan ini akan menyadari makna keberhasilan yang sesungguhnya. Dan tidak ada yang mampu untuk mengalahkan pengaruh kejahatan manusia dan iblis selain pribadi yang mumpuni dan tawadhu dalam tingkatan pengetahuannya yang dengannya manusia akan terhindar dari kejahilan.

Pembentukan karakter manusia selain berbanding lurus dengan latar pengetahuan dan interaksi sosialnya. Karenanya semua watak dan kebiasaan ikut ambil bagian dalam menentukan masa depan manusia. Perasaan dan pemikiran manusia terutama pada pertumbungan dan perkembangan akhlak serta tingkah laku setiap orang terus menerus berubah menuju kesempurnannya atau bahkan sebaliknya.

Langkah pertama yang dapat dilakukan untuk mengembangkan dan menyempurnakan
kepribadian adalah mempelajari dan menggali daya dan kemampuan tersembunyi dalam diri. Pada saat yang bersamaan mempersiapkan diri untuk menghilangkan segala faktor yang dapat menimbulkan penyakit yang dan menghalangi terbentuknya potensi kebaikan. Dengan itu kemudian manusia dapat mensucikan dirinya dari segala kerendahan. Rasulullah saw bersabda, “Seorang munafik bagaikan seekor domba yang kebingungan dalam memilih di antara dua kawanannya.”

Setiap perkataan tidak pernah mempunyai makna nilai yang riil kecuali bila keluar dari kedalaman eksistensinya sendiri. Kata-kata mengejewantahkan cerapan pikiran. Ketika kata-kata bertentangan dengan tindakan, dapat dipastikan itu keluar dari kepribadian yang tidak tulur dan tidak stabil yang akan mengakibatkan kehancuran pribadinya. Dengan situasinya sedemikian itu perangkap kemunafikan telah mulai menjalar dan merasuk dalam dirinya.

Tak pelak lagi bahwa sifat kemunafikan adalah salah satu sifat yang menjijikkan. Adalah fitrah manusia untuk meningkatkan martabat pribadinya. Namun ketika manusia telah terkotori dengan perkataan dusta, pengingkaran janji dan pelanggaran- pelanggaran persetujuan. Allah Swt berfirman, “Dan Allah menyaksikan bahwa sesungguhnya orang-orang yang munafik itu benar-benar pendusta. Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai pelindung, lalu mereka menghalanginya (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amal buruklah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS,63:1-2). Kemunafikan menemukan bentuknya sendiri dan bersiap untuk merasuki dan membimbing watak-watak yang kotor ini. Kemunafikan berkembang dalam keadaan seperti ini hingga akhirnya menjadi penyakit kronis yang mematikan. Sedemikian dahsyatnya sehingga dapat mematikan semua potensi dan cita rasa untuk menggapai kebenaran. Bahkan dapat menjadi tembok-tembok pembatas yang akan mengerus semua jalan menuju
kemuliaan.

Manusia yang terserang wabah penyakit ini, setiap perilakunya dikemasi sedemikian rupa sehingga nampaknya baik dan penuh persahabatan. Menuturkan pujian dan penghormatan yang berlebihan sebagai alat untuk menipu dan mempecundangi orang lain. Pujian yang keliru dan penerimaan yang berlebihan atas berbagai kehendak merupakan ciri utama dari kemunafikan. Imam Sayyid Ja’far Shadiq berkata, “Seorang munafiq mempunyai tiga tanda, lidahnya bertentangan dengan hatinya, hatinya bertentangan dengan perilakunya, penampilannya bertentangan dengan bathinnya (keperacayaannya) .”
Apabila orang munafik tidak mampu menarik perhatian orang yang berurusan dengannya atau tidak memperoleh kehormatan, hatinya pun merasakan kehinaan dan kebencian. Usahanya untuk menyembunyikan fakta-fakta dibalik dusta membuat kehidupannya tidak aman, tidak stabil dan gelisah, karena ketakutan akan terbongkar kedok dirinya. Psikolog dan Ulama Islam Sayyid Mujtaba Musawi Lari berkata, “orang munafik itu lebih berbahaya dari pada musuh yang membelot. Setiap musuh mempunyai watak jahat, baik yang tersembunyi ataupun yang terang-terangan; karena rasa benci hanya mempunyai satu warna. Tak syak lagi bahwa teman yang munafik lebih buruk dari kemunafikan itu sendiri.”

Faktor-faktor penyebab penderitaan sosial karena kemunafikan telah berkembang sedemikian sehingga untuk menemukan manusia yang memiliki sifat-sifat jujur dan ikhlas bagaikan mencari semut hitam di tengah malam yang gelap. Kepercayaan antara manusia yang satu dengan yang lainnya telah hilang, dan semua hubungan inter personal dipenuhi dengan rasa tidak aman dan curiga. Jika kemunafikan telah memasuki struktur pranata sosial ditambah dengan ramuan dusta dan kerendahan maka dapat dipastikan masyarakat seperti ini akan menghadapi malapetaka kehancuran yang tidak dapat dielakkan.

Memberantas Sarang Kemunafikan
Pernahkan anda mendengar peristiwa pengkhianatan yang dilakukan kaum Nabi Musa as? Ataukah peristiwa rencana pembunuhan terhadap Nabi Allah Isa as serta rencana sistematis untuk menggelapkan ajarannya di dalam kitab injil oleh pengikutnya sendiri? Ataukah kisah kemunafikan yang pernah dilakukan oleh orang sekitar Nabi Muhammad saw. Ataukah mendengar kisah disersinya pasukan Nabi dari suatu peperangan dan meninggalkan Rasulullah di tengah-tengah amukan pasukan musuh? Peristiwa uhud yang porak-poranda dan mengakibatkan sekian banyak sahabat Nabi terbunuh dan terluka serta terbunuhnya pama Nabi Hamzah ra denga sangat menggenaskan. Semua peristiwa di atas dalam catatan sejarah semuanya diawali dengan sebuah sumpah setia tapi kemudian menolak dan bahkan meninggalkan tugas-tugasnya. Oleh Allah Swt mengutuk sepenuhnya dan mengkategorikan sebagai kelompok orang-orang munafik.

Orang-orang munafik juga oleh Allah disebut sebagai kelompok yang destruktif dan anarkis. Mereka sanggup melakukan pengrusakan walaupun harus menempuh berbagai cara. Mulai dengan menunjukkan perbuatan yang paling baik dan indah sampai kepada perbuatan yang paling kotor dan menjijikkan. Imam Ali kw berkata, “Sadarilah akan orang-orang munafik karena mereka itu tersesat, menyesatkan dan pemimpin kepada jalan yang bathil, hati mereka sakit namun penampilan mereka kelihatan amat suci.” Keadaan mereka laksana binatang bunglon yang mampu berpenampilan sesuai dengan komunitas dan lingkungannya tetapi bersiap untuk melakukan aksi yang mematikan.

Dengan adanya gejala kehidupan manusia yang serba dipenuhi dengan berbagai pemenuhan kebutuhan hasrat (desire) mulai dari hasrat politik, hasrat berkuasa, hasrat ekonomi untuk menjadi kaya, hasrat sosial budaya untuk ketenaran dan hasrat-hasrat lainnya tampaknya selalu dibarengi dengan penyakit munafik. Gejala kemunafikan baik pada tingkat ideologi, tingkah laku, moralitas sampai pada perkataan telah terbentuk sedemikian rupa. Hal itu dapat kita lihat ketika seruan Islam kepada semua umat manusia terkhusus menganutnya untuk menciptakan persatuan sejagat dan total, dengan seketika kita juga akan melihat betapa perpecahan, permusuhan. Pengkhianatan, dan pengrusakan tetap terjadi.Walhasil bahwa sifat munafiklah sebenarnya menjadi sumber runtuhnya nilai-nilai primordial dan hakikat universalitas dari kemanusiaan. [] “Tiga hal yang akan mengantar manusia menuju keridhaan Allah; banyak beristighar, berlemah lembut kepada selainnya dan banyak bersedekah. Dan ada tiga hal yang jika disandang seseorang tidak akan menyebabkan penyesalan; tidak terburu-buru, selalau meminta nasehat dan beratawakal kepada Allah Swt. “(Imam Muhammad Jawwad).

Monday, August 3, 2009

10 PERINGATAN BUMI KEPADA MANUSIA

Konribusi dari Ros Sukri

1.Wahai anak Adam,berjalanlah di atas perutku tetapi ingatlah kau akan masuk ke dalam perutku kelak.

2.Kau melakukan kejahatan maksiat di atas belakangku tetapi ingat kau akan di azab di dalam perutku.

3.Engkau ketawa di atas perutku tetapi ingatlah kau akan menangis di dalam perutku.

4.Engkau bergembira/berseron ok di atas belakangku tetapi ingat kau akan kecewa sedih di dalam perutku.

5.Engkau mengumpul harta di atas belakangku tetapi ingat kau akan menyesal dalam perutku.

6.Engkau makan yang haram di atas belakangku tetapi ingat engkau akan dimakan ulat-ulat di dalam perut-

ku.

7.Engkau angkuh sombong di atas belakangku tetapi ingat engkau akan dihina di dalam perutku.

8.Engkau berlari dengan megah di atas belakangku tetapi ingatlah engkau akan jatuh di dalam perutku

dalam keadaan dukacita.

9.Engkau Hidup bersiramkan cahaya matahari,bulan dan bintang di belakangku tetapi ingat engkau akan tinggal dalam kegelapan di dalam perutku.

10.Engkau hidup beramai-ramai di atas belakangku tetapi ingatlah engkau akan berseorangan diri di

dalam perutku.

10 Tanda Orang Berakal

Kontribusi dari Fahmisyahab

Assalaamu'alaikum wr wb

TANDA-TANDA SEMPURNANYA AKAL SEORANG MUSLIM

1. ORANG LAIN SELALU YAKIN BAHWA DIA HANYA MELAKUKAN KEBAIKAN

2. ORANG LAIN SELALU YAKIN AKAN SELALU AMAN BERSAMANYA

3. SELALU MENGANGGAP BANYAK/BESAR PEMBERIAN ORANG LAIN WALAUPUN
SEDIKIT/KECIL - SELALU MENGINGAT KEBAIKAN ORANG LAIN

4. SELALU MENGANGGAP SEDIKIT/KECIL PEMBERIANNYA PADA ORANG LAIN WALAUPUN
BANYAK/BESAR - SELALU MELUPAKAN KEBAIKAN DIRINYA

5. TIDAK PERNAH BOSAN PADA ORANG YANG MINTA BANTUAN PADANYA

6. TIDAK PERNAH BOSAN MENUNTUT ILMU

7. FAQIR TAPI DEKAT DENGAN ALLAH LEBIH DISUKAI DARIPADA KAYA TAPI JAUH DARI
ALLAH

8. KEHINAAN DIPANDANGAN MANUSIA TAPI MULIA DISISI ALLAH LEBIH DISUKAI
DARIPADA MULIA DIPANDANGAN MANUSIA TAPI HINA DIPANDANGAN ALLAH

9. KETIDAKTERKENALAN DIKALANGAN MANUSIA LEBIH DISUKAI DARIPADA
KEMASYHURANNYA

10. TIDAK MELIHAT PADA ORANG LAIN KECUALI IA BERKATA BAHWA MEREKA LEBIH BAIK
DAN LEBIH TAKWA

Orang Islam (Muslim) adalah orang yang menyelamatkan orang Islam lainnya
dari gangguan lidah dan tangannya

Orang beriman (Mukmin) adalah orang yang membuat orang lain merasa AMAN bila
bersamanya

lebih lengkap nya silahkan dinikmati di link berikut...

http://www.indowebs ter.com/UST_ MUHAMMAD_ BSA_267_IMAM_ ALI_ARRIDLA_ MUSLIM_BERAKAL. html

UST MUHAMMAD BSA - 267 - IMAM ALI ARRIDLA - MUSLIM BERAKAL

--
Salam min Batam
Fahmi Syahab
+62 811 700 9852

Rahasia Tarikh Lahir?!! No Way!!!

Bismillahirrahmanir rahiim,

Assalamualaikum wR wB


SUBHANALLAH! !! PAGI!!!


Saudara, artikel ringkas ini saya tuliskan, karena masih ada saudara kita yang kurang memahami “dengan baik” artikel yang terdahulu yang bertajuk : “BAHAGIA DENGAN TAWAKKAL” dan telah saya terbitkan didalam blog saya dengan judul : “BAHAGIA KARENA BERTAWAKKAL”. Semoga tulisan ringkas ini dapat lebih manfaat bagi tuan-tuan yang memiliki waktu luang untuk membaca.

Seorang muslim semestinya berterimakasih dan bergembira juga berbangga kerana tuhan mereka adalah Allah swt, karena agama mereka adalah Islam, karena nabi mereka adalah nabi Muhammad saw.

Mengapa harus bersikap demikian? Karena Allah swt tidak pernah menzalimi apa dan siapapun dilangit dan dibumi ini, karena Islam akal fikiran kita tidak “diperbudak” dan tidak pula “diperbodohkan”, karena Muhammad saw kita ber-tuhankan Allah swt dan ber-agamakan Islam.



Namun demikian, masih ada diantara umat ini yang merasa dirinya dizalimi oleh Allah swt ataupun mereka beranggapan Allah swt tidak adil!!! (na’udzubillahi min dzalik).


Ketika ditanyakan apa sebab saudara ataupun saudari berpendapat demikian? Mereka menjawab, “karena aku dilahirkan pada hari ini dan tarikh ini, maka bintangkupun menjadi ini kemudian hidupku menjadi begini dan ia sungguh amat sangat tidak menyenangkan! !! Coba seandainya aku dilahirkan pada hari itu dan tarikh itu, maka sudah tentu sekarang aku hidup bahagia dan sentosa!!!”.


Cerita diatas tadi hanyalah sebuah gambaran sebagai akibat dari meyakini ataupun kepercayaan kepada baik buruknya nasib ataupun kepribadian yang didasarkan kepada pengiraan hari lahir dan tarikh yang tidak diajarkan didalam ajaran Islam.


Sikap Kita Sebagai Seorang Muslim


Pertama : Bergembira Karena Bertuhankan Allah swt.


Dahulu dizaman kegelapan umat manusia, manusia telah membuat tuhan-tuhan yang banyak, ada tuhan kegelapan, ada tuhan pemberi rezeki, ada tuhan penyiksa, ada tuhan penabur cinta dan sebagainya. Tuhan-tuhan itu buatan mereka sendiri. Demikianlah yang diceritakan oleh Umar bin Khattab didalam kisahnya tatkala dirinya ditanya oleh seorang sahabat :

“wahai amirul mukminin!!!, apakah gerangan yang menyebabkan dikau tertwa dalam satu masa kemudian dikau menangis pula pada masa yang sama?, maka Umar pun menjawab : Hai saudaraku, tertawanya akan daku, karena teringat olehku disaat-saat jahiliyah ku, disana kami membuat tuhan dari kuih muih (kue-kue), dan setelah kami menyembah tuhan-tuhan kuih itu, maka kami makan kuih muih itu, maka dengan demikian maka kami telah memakan tuhan kami. Adapun menangis akan daku karena dizaman jahiliyahku teringat akan daku perbuatan jahilku yang menguburkan putriku hidup-hidup, dia keringkan peluhku yang tengah menggalikan lubang kubur untuk dirinya”.

Setelah datangnya Islam, kita tidak disuruh menyembah selain kepada tuhan yang Esa yang memiliki seluruh sifat-sifat mulia yang tiada sifat cela padanya. Tuhan yang Maha Kasih dan Maha Pemurah.

Maka wahai saudaraku, bergembiralah karena tuhan yang kita sembah Dialah tuhan yang telah mengharamkan keatas zat-Nya untuk berbuat zalim sebagaimana yang dijelaskan didalam sebuah hadis Qudsi berikut :

عن أبي ذر ، عن النبي صلى الله عليه وسلم ، فيما روى عن الله تبارك وتعالى أنه قال : " يا عبادي إني حرمت الظلم على نفسي ، وجعلته بينكم محرما ، فلا تظالموا

Yang bermaksud :

“Daripada Abu Zar, daripada nabi Muhammad saw, pada apa yang diriwayatkan daripada Allah swt, bahawa Allah swt berfirman : Wahai hamba-hambaku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan keatas zatku untuk berbuat zalim, dan telah Aku jadikan (zalim) itu haram keatas kamu semua, maka janganlah kamu saling menzalimi”. (H.R. Muslim)

Maka wahai saudaraku, bergembiralah karena tuhan yang kita sembah Dialah tuhan yang tidak pernah menzalimi hamba-hambanya, sebagaimana yang dijelaskan didalam surat Ali Imran ayat ke 108 seperti berikut :

(تِلْكَ آيَاتُ اللّهِ نَتْلُوهَا عَلَيْكَ بِالْحَقِّ وَمَا اللّهُ يُرِيدُ ظُلْماً لِّلْعَالَمِينَ) (آل عمران : 108 )

“Itulah ayat-ayat Allah. Kami bacakan ayat-ayat itu kepadamu dengan benar; dan Tiadalah Allah berkehendak untuk Menganiaya hamba-hamba- Nya”. (Q.s. Ali Imran : 108)

Demikian pula yang tertulis pada surat Ghafir ayat ke 31 sebagaimana berikut :

(مِثْلَ دَأْبِ قَوْمِ نُوحٍ وَعَادٍ وَثَمُودَ وَالَّذِينَ مِن بَعْدِهِمْ وَمَا اللَّهُ يُرِيدُ ظُلْماً لِّلْعِبَادِ) (غافر : 31 )

“(yakni) seperti Keadaan kaum Nuh, 'Aad, Tsamud dan orang-orang yang datang sesudah mereka. dan Allah tidak menghendaki berbuat kezaliman terhadap hamba-hamba- Nya”. (Q.s. Ghafir : 31)

Maka wahai saudaraku, bergembiralah karena tuhan yang kita sembah Dialah tuhan yang sangat kasih dan sangat sayang terhadapmu, sebagaimana yang dijelaskan didalam surat al-Nisa ayat ke 29 seperti berikut :

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَأْكُلُواْ أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلاَّ أَن تَكُونَ تِجَارَةً عَن تَرَاضٍ مِّنكُمْ وَلاَ تَقْتُلُواْ أَنفُسَكُمْ إِنَّ اللّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيماً) (النساء : 29 )

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang Berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu; Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu”. (Q.S. Al-Nisa : 29)

Maka wahai saudaraku, bergembiralah karena tuhan yang kita sembah Dialah tuhan yang sangat kasih dan sangat menerima taubatmu, sebagaimana yang dijelaskan didalam surat al-Nisa ayat ke 16 seperti berikut :

(إِنَّ اللّهَ كَانَ تَوَّاباً رَّحِيماً) (النساء : 16 )

“Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”.(Q.s. al-Nisa : 16)

(وَاسْتَغْفِرِ اللّهَ إِنَّ اللّهَ كَانَ غَفُوراً رَّحِيماً) (النساء : 106 )

“Dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Q.s. Al-Nisa : 106)

Maka wahai saudaraku, bergembiralah karena tuhan yang kita sembah Dialah tuhan yang tidak pernah memberimu satu bebanan melainkan didasarkan kepada “kemampuan”mu, sebagaimana yang dijelaskan didalam surat al-Baqarah ayat ke 233 seperti berikut :

(لاَ تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلاَّ وُسْعَهَا) (البقرة : 233 )

“seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya”. (Q.s. Al-Baqarah : 233)

Demikian juga seperti yang tertulis pada surat al-Baqarah ayat ke 286 berikut :

(لاَ يُكَلِّفُ اللّهُ نَفْساً إِلاَّ وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ) (البقرة : 286 )

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya”.(Q.s. Al-Baqarah : 286)

Demikianlah pula yang disebutkan didalam surat al-An’am ayat ke 152, al-A’raf ayat ke 42 dan surah al-Mukminun ayat ke 62.

Maka atas sebab apa kita tidak bergembira karena bertuhankan Allah swt?

*Dalam artikel yang saya inginkan “sifatnya” pendek dan jelas ini, maka saya ceritakan tentang kebesaran-kebesaran Allah swt ini.


Kedua : Berbangga karena beragama Islam

Sebelum datang Islam kemuka bumi, masyarakat Arab jahiliyah meyakini tamaa im (azimat) dan tathayyur (nasib malang) untuk itu mereka mendatangi para dukun agar diberikan azimat ataupun penangkal, demikian pula jika mereka akan berniaga, bermusafir kesuatu negeri dan sebagainya, jika tiba-tiba ada seekor burung yang terbang disebelah kiri mereka, maka mereka “urung” (membatalkan) niat tadi. Maka akal umat manusia dikala itu telah “diperbodohkan” oleh para dukun dan mereka “diperjahilkan” akal mereka oleh seekor burung yang terbang disebelah kiri mereka.

Kita tidak ingin akal itu menjadi buta, kita juga tidak ingin akal itu menjadi dungu, kita juga tidak ingin akal itu menjadi pak pandir, kita juga tidak ingin akal itu menjadi pak turut, kita juga tidak ingin akal itu menjadi pekak, kita juga tidak ingin akal itu menjadi budak nafsu dan segala macam wasangka, kerana wasangka dan perasaan itu tidak dapat dijadikan dalil yang hak dan kuat.

Dengan datangnya Islam, maka akal itu dikembalikan kepada kedudukannya yang mulia, yiaitu untuk menilai mana yang benar dan yang tidak benar. Maka manusia ketika sudah menggunakan akal fikirannya, tinggilah harkat dan martabatnya, agunglah cita-cita hidupnya, tinggilah cita rasanya, sedaplah sentuhan nuraninya.

Maka atas sebab apa kita tidak berbangga menjadi seorang muslim?

Ketiga : Berterimakasih karena Muhammad saw nabi kita.

Sudah semestinya kita berterimakasih kepada Allah swt yang mengutuskan seorang nabi yang ummiy sangatlah kasih kepada umatnya sangatlah tinggi akhlaknya, sangatlah mulia pekertinya dan sebagai rahmatan bagi seluruh alam raya. Demikianlah firman Allah swt didalam al-Quran yang menggambarkan keutamaan sang nabi akhir zaman ini.

(لَقَدْ جَاءكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ) (التوبة : 128 )

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, Amat belas kasihan lagi Penyayang terhadap orang-orang mukmin”. (Q.s. al-Taubah : 128)

(وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ) (القلم : 4 )

“dan Sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung”. (Q.s al-Qalam : 4)

(وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ) (الأنبياء : 107 )

“Dan Tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”. (Q.s. al-Anbiya : 107)

Dialah nabi yang bersedia menanggung bebananmu. Dialah nabi yang menyebut-nyebut namamu hingga menjelang ajalnya. Dialah nabi yang membalas lemparan batumu dengan kesabaran, dialah nabi yang membalas cemoohanmu dengan senyuman.


Kepribadian Ditentukan Oleh Tarikh Lahir? NO WAY!!!

Kelahiran anak manusia kemuka bumi bukan sebuah permaian dan bukan perkara yang sifatnya main-main. Tetapi terlahirnya anak manusia kemuka bumi dengan satu tujuan dan urusan yang sangat besar dan sangat amat mulia yaitu sebagai “KHALIFAH”-Nya, sehinggakan para malaikat itu cemburu melihat Adam as lah yang akan mengimarahkan muka bumi ini. Demikianlah firman Allah swt didalam al-Quran surah al-Baqarah ayat ke 30 seperti berikut :

(وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُواْ أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاء وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لاَ تَعْلَمُونَ) (البقرة : 30 )

Yang bermaksud :

“Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. (Q.s. al-Baqarah : 30)

Demikianlah mulianya manusia disisi Allah swt bukan para malaikat itu yang dijadikan peng-imarah muka bumi dan bukan pula para Iblis ataupun jin. Demikian pulalah sebab hasad dengki Iblis kepada nabi Adam as dan kepada anak cucunya hingga berlakunya hari kiamat.

Kelahiran anak manusia ini mustahil disamaratakan atau diserempakkan hari atau tarikh lahirnya, kalau yang demikian itu terjadi maka akan hilanglah sifat kuasa Allah swt (al-Qadiir) yang dapat berbuat segala suatu tanpa ada yang dapat menghalangnya (al-Iradah). Maka atas kehendak Allah swt jugalah kita dilahirkan pada hari sekian dan tarikh sekian tanpa ada sebab tertentu dan tanpa ada tujuan tertentu. Semua dilahirkan kemuka bumi dengan tujuan yang sama “KHALIFAH” yang sama mulia dan derajatnya. Allah swt berfirman :

(لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ) (التين : 4 )

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”. (Q.s. al-Tiin : 4)

Demikianlah Allah swt telah “resmikan” bahawa kita ini makhluk-Nya yang paling mulia. Dalam hal ini,Rasulullah saw telah bersabda didalam sebuah hadis berikut :

عن أبي هريرة رضي الله عنه ، قال : قال النبي صلى الله عليه وسلم : " كل مولود يولد على الفطرة ، فأبواه يهودانه ، أو ينصرانه ، أو يمجسانه

Yang bermaksud :

“Daripada Abu Hurairah ra beliau berkata : telah bersabda Rasulullah saw : “ Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci, maka kedua ibubapanya juga yang menjadikan dia seorang Yahudi atau Nasrani atapun Majusi”. (H.R. Bukhari)

Perkataan suci didalam hadis ini sebagian ulama mengatakan maksudnya agama Islam, ada juga yang mengatakan ianya sebagai kemuliaan karena kemuliaan itu hanya ada pada Islam.

Terlepas dari maksud itu semua, jika hendak sejenak befikir akan makna firman Allah swt diatas, “…telah kami ciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”. Maka fahamlah kita akan hakikat diri bahawa inilah kita manusia yang dipilih menjadi makhluk yang paling mulia, paling indah dan paling sempurna ciptaannya.

Lantas, apa sebab kita berlari dari kenyataan ini? Apa sebab kita merusak hakikat ini? Kita menjadi manusia yang celaka hanya karena meyakini baik dan buruk keperibadian itu berawal dari tarikh lahir?! Padahal tadinya kita sudah mulia dan Allah swt telah memerintahkan kita agar berpegang teguh kepada ajaran-ajaran- Nya (al-Quran dan al-Sunnah) demikian pula wasiat sang nabi Muhammad saw, agar manusia itu tetap mulia selama hayatnya.

Namun jika sang Khalifah sudah meninggalkan keduanya, celakalah akibatnya, perbalahan dan pertentangan sebagai akibatnya, akhirnya binasalah seluruh umat manusia.

Firman Allah swt didalam surah al-Nisa ayat ke 82 seperti berikut :

(أَفَلاَ يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللّهِ لَوَجَدُواْ فِيهِ اخْتِلاَفاً كَثِيراً) (النساء : 82 )

“Maka Apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya”.(Q.S. al-Nisa : 82)

Disebutkan didalam tafsir al-Munir yang dikarang oleh DR. Wahbah al-Zuhaily, pengertian makna ayat diatas sebagai berikut :

“Dan Allah swt telah menyuruh mereka untuk mentadabburkan al-Quran sehingga mengertilah akan makna-maknanya yang penuh dengan hikmah dan lafaz-lafaznya yang sempurna, maka Dialah Allah swt yang akan menjamin kebenaran langkah-langkah mereka, dan mereka diberitakan jika mengikutinya tidak akan terjadi keraguan dan kebimbangan karena al-Quran itu datangnya dari Allah swt”.

Namun kita sebagai umat Muhammad saw ini, dalam penerapan keyakinan beragamanya tidaklah tulus dan ikhlas dalam mengamalkannya, kita masih meyakini ajaran “isapan jempol” atau ajaran karut, ajaran yang tidak asas didalam al-Quran maupun sunnah Rasulullah saw, kita lebih cenderung untuk mengikuti ajaran yang diajarkan oleh manusia biasa (walaupun gelarnya sebagai seorang “doctor” ataupun seorang “motivator” yang terkenal) malangnya ajaran itu adalah menilai kepribadian berdasarkan tanggal atau tarikh lahir. Dari sinilah diantara mulanya perpecahan, rusak keimanan dan terpesongnya akidah umat, atas sebab mereka tidak mengambil asas dari al-Quran ataupun sunnah Rasulullah saw. Mereka telah mengajar umat ini untuk meyakini apa yang diyakini oleh orang-orang Hindu ataupun Budha!!!

Manisnya mereka juga berkata : “anda boleh percaya atau tidak, dan anda tidak kami paksa untuk percaya”. Manis betul.

Keimanan dengan rahasia tanggal lahir ataupun tarikh lahir ini, sangat membahayakan akidah dan telah menciptakan manusia-manusia yang tasya um (orang-orang yang berputus asa atau pesimistis) dan lemah.

Coba tuan bayangkan, jika tuan dilahirkan pada tarikh yang buruk menurut para peramal itu, walaupun tuan tidak meyakininya, namun sedikit sebanyak jiwa tuan akan terganggu juga karenanya. Dan ternyata ramalan tarikh lahir itu benar-benar mengena dengan keadaan tuan, maka akan semakin jauh tuan mengutuk diri tuan. Sangat dikhawatirkan jika tuan katakan : “saya memang sudah ditakdirkan untuk menjadi manusia lemah, pengecut dan gagal…Oh apalah guna hidupku ini, mati lebih baik agaknya?!” atau tuan akan mengatakan : “dimanakah keadilan tuhan?! Mengapa aku dilahirkan pada tarikh sial ini?!!!”.

Gambaran diatas saya ulangi lagi agar saudara pembaca lebih menghayatinya. Bahkan dengan ramalan tarikh atau tanggal lahir ini tidak menutup kemungkinan meyebabkan orang-orang mengutuk hari lahirnya. Manakala mengutuk hari itu sama halnya dengan mengutuk Allah swt sendiri!!!

Rasulullah saw bersabda :

عن أبي هريرة ، عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : " لا تسبوا الدهر ، فإن الله هو الدهر "

Yang bermaksud :

Daripada Abu Hurairah ra , daripada nabi saw beliau bersabda : “Janganlah kamu mengutuk waktu, karena sesungguhnya Allah itu adalah waktu”. (H.R. Bukhari Muslim)

Sekarang mari kita lihat kembali kepada surat al-Tiin ayat yang keempat tadi :

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”.

Saudara, betapa anda begitu mulia disisi Allah swt!!!…Betapa anda begitu berharga disisi Allah swt!!!…Betapa anda begitu tinggi disisi Allah swt!!!…Betapa anda begitu indah disisi Allah swt!!! Dan betapa anda begitu hebat disisi Allah swt!!! Maka janganlah dikau hancurkan kedudukan “kemuncak” itu hanya karena anda meyakini nasib anda dengan tarikh lahir!!!

Sungguh jika anda meyakininya, maka hilanglah sikap tawakkal anda terhadap Allah swt, jika hilang sikap tawakkal anda dari dalam diri berkuranglah iman yang tersemai didalam dadamu. Sungguh jika anda meyakininya, rusaklah keimanan yang tersemai didalam dada anda, jika rusak keimanan yang ada didalam dada anda, maka apa bedanya anda dengan mereka yang menyembah berhala itu?

Saudaraku, jangan biarkan diri anda dipermainkan oleh nomor-nomor atau angka-angka, sadarlah dan ketahuilah segera jangan terlalu lama hidup andan dipermainkan oleh nomor-nomor, karena tugas anda sesungguhnya lebih besar daripada memikirkan nomor-nomor lahir anda. Jangan anda di-bodohi oleh mereka yang mengaku pakar dalam urusan ghaib (ahli metafisika) atau seorang pakar motivator yang “perlu” dimotivasi keimanannya itu.


Meyakini Tanggal atau Tarikh Lahir Berdasarkan Persepsi Hukum Islam

Pertama : Dijelaskan didalam kitab “al-Durar al-Sunniyah fi al-Ajwibah al-najdiyah” bab “tabi’ kitab hukm al-murtadd”, syaikh Sulaiman bin Hamdan ditanyakan seoalan berikut :

“Adakah perlu bagi seorang insan meyakini, atau beri’tikad atau menjadi pesimis atau berilusi bahawa dia akan kena pekara yang dapat membahayakan seperti penyakit atau kematian, disebabkan nomor atau tahun, ataupun bulan ataupun hari?

Beliau menjawab :

“Alhamdulillah, tidak dibenarkan seorang insan menjadi pesimis dengan beri’tikad ataupun wasangka buruk bahwa dirinya akan terkena perkara yang membahayakan seperti penyakit ataupun kematian, ataupun selain itu sebagai sebab dari benda-benda yang disebut diatas. Ataupun disebabkan benda selain itu dan tidak boleh mempercayainya bahkan perkara seperti ini termasuk ramalan yang dilarang, dan perbuatan demikian termasuk kedalam perbuatan ahli syirik atau ahli kafir, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Allah swt didalam kitab-Nya seperti kaum Fir’aun, dan kaum nabi Soleh as, dan orang-orang kampung yang datang kepadanya utusan-utusan, dan dari perkara-perkara jahiliyah serta adat kebiasaan yang telah datang kepadanya Islam untuk membatalkannya dan mengharamkannya”.

Kedua : Dijelaskan didalam kitab “al-Mausuu’ah al-fiqhiyah al-Kuwaitiyah” bab “al-Tathayyur”, bahwa al-Tathayyur atau menilik nasib sebagai berikut :

"Arab jahiliyyah jika hendak keluar rumah, maka mereka akan menuju tempat burung bersarang, kemudian mereka menggerak-gerakkan sarang burung tersebut. Jika burung tersebut terbang keluar dari sarangnya kearah kanan, maka mereka akan meneruskan niat mereka, dan jika burung itu terbang kesebelah kiri, maka mereka membatalkan niat mereka. Islam telah membatalkan segala amalan itu, dan semua urusan sudah dikembalikan kepada sunnah Allah swt yang tetap, dan kepada kekuasaan-Nya yang syumul, dan kehendak-Nya yang mutlak. Telah dijelaskan didalam atsar sahih : barangsiapa yang dikembalikan oleh seekor burung dari hajatnya, maka dia telah syirik".

Ketiga : Dijelaskan didalam kitab “Takmilat al-Fatawa al-Mauqi’” bab nomor ke “97221” sebagai berikut :

"bahwasanya Arab menjadi pesimis karena seekor burung atau karena waktu atau kerana seseorang, ini termasuk syirik sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah saw".

Keempat : Dijelaskan didalam kitab “fatawa Islam su aalun wa jawaabun” bab “tas alu un khurafat tat’allaqu bi al-zawaj” sebagai berikut :

“ketahuilah bahwa al-Tathayyur menafikan tauhid. Sebab penafian ini disandarkan kepada dua perkara, pertama : karena yang meyakini tathayyur telah memutuskan sikap tawakkalnya kepada Allah swt sebagaimana dia telah bersandar kepada selain-Nya dan yang kedua : bahwa dia telah terikat dengan perkara yang tiada kebenaran padanya atau tiada hakikatnya".

Kelima : Dijelaskan didalam kitab “I’anat al-Mustafiid bisyarhi kitab al-tauhid” bab “man haqqaqa al-Tauhid dakhala al-Jannata bighairi hisaab” dan bab “Maa Jaa a fi al-tathayyur” seperti berikut :

"al-Tathayyur yaitu pesimis yang disebabkan oleh seekor burung ataupun sebab yang lain. Al-Tathayyur merupakan adat orang jahiliyah dahulu, adat ini akan senantiasa ada hingga hari kiamat. Sesiapa yang meyakininya telah syirik".

Keenam : dijelaskan didalam kitab “al-Durar al-Sunniyah fi al-Ajwibah al-Najdiyah” bab “al-Qism al-Akhir min kitab hukm al-Murtadd” seperti berikut :

"diharamkan bersikap pesimis terhadap waktu, baik itu (samada) bulan ataupun tahun, hari ataupun waktu".

Cukup ramai pernyataan para ulama yang menjelaskan hukum meyakini perkara-perkara yang disebut diatas, namun saya tidak cukup waktu untuk menulis secara terperinci pada postingan ini.

Meskipun didalam kitab-kitab tadi tidak disebutkan secara jelas mengenai tarikh lahir, namun perkataan “WAKTU” didalam fatwa-fatwa tadi sudah mengisyaratkan makna yang serupa. Karena tanggal atau tarikh juga termasuk kedalam kategori waktu.

Namun demikian saya berharap apa yang saya sampaikan ini merupakan satu sumbangan karena Allah swt untuk saudara-saudaraku seagama dan seiman, semoga dengan demikian tiada keraguan dan tiada pessimistic didalam mengarungi kehidupan yang indah ini.

Kesimpulan

Saudaraku, sesungguhnya waktu itu adalah Allah swt sendiri, maka janganlah engkau mengutuk waktumu. Janganlah dikau termakan hasutan mereka itu sehingga dikau mengutuk waktumu.

Saudaraku, sesungguhnya Allah swt telah menciptakan dirimu sebagai ciptaan yang paling baik dan sempurna, maka janganlah dikau rusakkan karena hasutan.

Saudaraku, sesungguhnya Allah swt telah meninggikan derajatmu, maka janganlah dikau jatuhkan dikarenakan keyakinanmu yang tidak betul itu.

Saudaraku, sesungguhnya Allah swtg telah memberimu rezeki yang baik-baik, maka janganlah engkau cela.

Saudaraku, sesungguhnya meyakini rahasia tanggal (tarikh) lahir, rasi bintang dan sebagainya akan menyebabkan dirimu mengutuk penciptamu.

Saudaraku, sesungguhnya Allah swt sangat sayang kepadamu, maka apa sebab dikau berlari darinya dan meyakini ramalan makhluknya?

Saudaraku, sesungguhnya engkau tidak diciptakan melainkan untuk menyembah dan taat patuh kepada-Nya, namun mengapa dikau kini berpaling dari ajaran-Nya?

Saudaraku, sesungguhnya engkau diciptakan menjadi “KHALIFAH”-Nya, namun mengapa dikau menafikannya?

Saudaraku, seseungguhnya tugasmu diatas muka bumi ini sangatlah besar dan beratnya, namun mengapa dikau menyibukkan dirimu dengan perkara-perkara yang tiada nilainya disisi Allah swt dan bahkan membahayakan dirimu?

Saudaraku, manakah yang lebih baik menurutmu, perkataan tuhanmu itukah atau perkataan mereka manusia sepertimu?! Maka siapakah yang lebih baik daripada Allah yang telah menciptakan dan memuliakan dirimu?!

Bergembiralah wahai saudaraku, karena tuhan yang engkau sembah adalah Allah swt, berbanggalah wahai saudaraku, karena engkau beragama Islam dan berterimakasihlah wahau saudaraku, karena nabi-mu Muhammad saw.

Demikianlah, semoga manfaat dan maaf bagi mereka yang kurang berkenan. Tiadalah yang daku inginkan, melainkan sebuah perbaikan yang termampu diri ini lakukan. Kalau benar maka dari Allah swt juga datangnya, jika tersalah, maka itulah dari syaithan dan begitulah diri saya yang sarat dengan kekurangan dan kejahilan.

Wassalamu’alaikum wR wB

Masyhuri Masud
IIUM (MIRKH Quran Sunnah)

Mari Menyambut Bulan Ramadhan

Bismillahirrahmanii rrahiim,
Assalamualaikum wR wB


Subahanallah!!!

Rasulullah saw bersabda :

حدثنا محمد بن زياد ، قال : سمعت أبا هريرة رضي الله عنه ، يقول : قال النبي صلى الله عليه وسلم : أو قال : قال أبو القاسم صلى الله عليه وسلم : " صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته ، فإن غبي عليكم فأكملوا عدة شعبان ثلاثين "





Yang bermaksud :

Telah dikatakan kepada kami oleh Muhammad bin Zayyad, beliau mengatakan : Aku telah mendengar Abu Hurairah ra berkata : Telah bersabda Rasulullah saw "Berpuasalah karena melihatnya (anak bulan Ramadhan) dan berbukalah karena melihatnya (anak bulan Syawwal) dan jika kamu semua tidak dapat melihatnya maka sempurnakan bulan sya'ban tiga puluh hari". (H.R. Bukhari Muslim)

Setiap insan memiliki tamu dan mereka diwajibkan untuk memuliakan tetamunya. Adapun tamu umat ini dialah Ramadhan yang berkunjung kepada kita selama satu bulan, maka muliakanlah dia siang dan malam selama bersama kita.

Kita mestilah bersiap-siap untuk menyambut kedatangannya, agar tidak kita dianggap sebagai tuan rumah yang tidak pandai memuliakan tetamu.

Diantara persiapan-persiapan yang harus disediakan adalah seperti berikut :

Pertama : Persiapan Jasmani (tubuh badan)

Hendaklah setiap muslim memperkuat daya tahan tubuh (immune). Membiasakan dirinya untuk hidup sehat, dengan memakan makanan yang baik dan beriadah ataupun berolah raga, agar supaya ketika datangnya Ramadhan tidaklah kita sakit-sakitan sehingga tidak dapat melayan "tamu agung" itu dengan sempurna.

Kedua : Persiapan Ruhani (mental spiritual)

Disamping pentingnya persiapan tubuh badan ataupun jasmani, maka perlu jugalah bagi kita untuk membenahi persiapan ruhani. Agar ruhani ini tidak nakal disaat kehadiran "tamu agung". Maklumlah "tamu agung" ini hanya inginkan kebaikan belaka dari sang tuan rumah, dan dia tidak akan mau bersama tuan rumah yang nakal dan menggatal.

Adapun persiapan ruhani yang mesti dilaksanakan sebagaimana berikut ini :

- Berdoalah semoga Allah swt memberkati kita selama dibulan Rajab dan Sya'ban dan memohon agar disampaikan ke bulan Ramadhan.

- Berazamlah untuk dapat menjalani ibadah dan puasa di bulan Ramadhan dengan lebih baik dan sempurna.

- Memperbaiki pandangan mata yang selama ini "mungkin" hanya melihat perkara yang kurang baik. Pandangan mata itu hendaklah mula diarahkan untuk melihat kearah ayat-ayat Allah swt (al-Quran) ataupun membaca buku-buku yang berkenaan dengan tips menyambut bulan Ramadhan.

- Memperbagus pendengaran telinga yang selama ini "mungkin" hanya menyenangi gosip, cerita isapan jempol atau cerita karut. Pendengaran telinga itu hendaklah mula ditujukan kearah mendengar bacaan ayat-ayat Allah swt (al-Quran) ceramah-ceramah agama, atapun nasehat-nasehat yang baik.

Jika sudah cantik jasmani dan ruhani ini, maka insya Allah kita akan dapat melayan "tamu agung" itu dengan sempurna.

Ramadhan sebentar lagi...

Selamat menyambut bulan Ramadhan...



Wassalamualaikum wR wB


Masyhuri Masud
IIUM (MIRKH Quran Sunnah)

Sunday, August 2, 2009

8 Tips Sambut Ramadhan

Konstribusi dari Ulis Tofa, Lc


dakwatuna.com - Ramadhan yang penuh kelimpahan kebaikan dan keutamaan, akan dapat dirasakan dan diraih ketika ilmu tentang Ramadhan dipahami dengan baik.

Bayangkan, para generasi awal Islam sangat merindukan bertemu dengan bulan suci ini. Mereka berdo'a selama enam bulan sebelum kedatangannya agar mereka dipanjangkan umurnya sehingga bertemu dengan Ramadhan. Saat Ramadhan tiba, mereka sungguh-sungguh meraih kebaikan dan keuataman Ramadhan. Dan ketika mereka berpisah dengan Ramadhan, mereka berdo'a selama enam bulan setelahnya, agar kesungguhannya diterima Allah swt. Kerinduan itu ada pada diri mereka, karena mereka sadar dan paham betul keutamaan dan keistimewaan Ramadhan.

Bagaimana menyambut bulan Ramadhan? Berikut kami hadirkan "8 Tips Sambut Ramadhan" :

1. Berdoa agar Allah swt. memberikan umur panjang kepada kita sehingga kita berjumpa dengan bulan Ramadhan dalam keadaan sehat. Dengan keadaan sehat, kita bisa melaksanakan ibadah secara maksimal: Puasa, shalat, tilawah, dan dzikir. Dari Anas bin Malik r.a. berkata, bahwa Rasulullah saw. apabila masuk bulan Rajab selalu berdoa, "Allahuma bariklana fii rajab wa sya'ban, wa balighna ramadan. Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya'ban, dan sampaikan kami ke bulan Ramadan." (HR. Ahmad dan Tabrani)

2. Pujilah Allah swt. karena Ramadhan telah diberikan kembali kepada kita. Imam An Nawawi dalam kitab Adzkar-nya berkata: "Dianjurkan bagi setiap orang yang mendapatkan kebaikan dan diangkat dari dirinya keburukan untuk bersujud kepada Allah sebagai tanda syukur; dan memuji Allah dengan pujian yang sesuai dengan keagungannya. " Dan di antara nikmat terbesar yang diberikan Allah swt. kepada seorang hamba adalah ketika dia diberikan kemampuan untuk melakukan ibadah dan ketaatan.

3. Bergembira dengan datangannya bulan Ramadhan. Rasulullah saw. selalu memberikan kabar gembira kepada para sahabatnya setiap kali datang bulan Ramadhan: "Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Allah telah mewajibkan kepada kalian untuk berpuasa. Pada bulan itu Allah membuka pintu-pintu surga dan menutup pintu-pintu neraka." (HR. Ahmad).

4. Rencanakan agenda kegiatan harian untuk mendapatkan manfaat sebesar mungkin dari bulan Ramadhan. Ramadhan sangat singkat, karena itu, isi setiap detiknya dengan amalan yang berharga, yang bisa membersihkan diri, dan mendekatkan diri kepada Allah swt.

5. Kuatkan azam, bulatkan tekad untuk mengisi waktu-waktu Ramadhan dengan ketaatan. Barangsiapa jujur kepada Allah swt., maka Allah swt. akan membantunya dalam melaksanakan agenda-agendanya dan memudahnya melaksanakan aktifitas-aktifitas kebaikan. "Tetapi jikalau mereka benar terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka." Muhamad:21.

6. Pahami fiqh Ramadhan. Setiap mukmin wajib hukumnya beribadah dengan dilandasi ilmu. Kita wajib mengetahui ilmu dan hukum berpuasa sebelum Ramadhan datang agar amaliyah Ramadhan kita benar dan diterima oleh Allah swt. "Tanyakanlah kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahu." Al-Anbiyaa' ayat 7

7. Kondisikan qalbu dan ruhiyah kita dengan bacaan yang mendukung proses tadzkiyatun- nafs -pemberishan jiwa-. Hadiri majelis ilmu yang membahas tentang keutamaan, hukum, dan hikmah puasa. Sehingga secara mental, dan jiwa kita siap untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah swt. di bulan Ramadhan.

8. Tinggalkan dosa dan maksiat. Isi Ramadhan dengan membuka lembaran baru yang bersih. Lembaran baru kepada Allah, dengan taubat yang sebenarnya taubatan nashuha. "Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung." An-Nur:31. Lembaran baru kepada Muhammad saw., dengan menjalankan sunnah-sunnahnya dan melanjutkan risalah dakwahnya. Kepada orang tua, istri-anak, dan karib kerabat, dengan mempererat hubungan silaturrahim. Kepada masyarakat, dengan menjadi orang yang paling bermanfaat bagi mereka. Sebab, "Manusia yang paling baik adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain."

Semoga Allah swt. memanjangkan umur kita sehingga berjumpa dengan Ramadhan. Dan selamat meraih kebaikan-kebaikanny a. Amin ya Rabbana. Allahu a'lam (io)