Tuesday, August 18, 2009

Contoh-contoh Istri yang ta’at dan yang ingkar

Assalamualaikum wR wB

Kontribusi dari saudara Dani Permana

Kita mungkin mengetahui bahwa dalam kehidupan nyata ini, kita bisa menemui
hal-hal yang telah Allah gambarkan 14 abad yang lalu, sesungguhnya
kisah-kisah yang di gambarkan oleh Allah dalam al Qurlan ini bisa di ambil
pelajarannya.

Artinya : Allah membuat istri Nuh dan istri Lut perumpamaan bagi orang-orang
kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di
antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua
suaminya, maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikit pun
dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya); "Masuklah ke neraka
bersama orang-orang yang masuk (neraka)".
(QS. At Tahrim : 10)

Allah menggambarkan tentang istri Nabi Nuh dan Luth sebagai perumpamaan bagi
orang-orang yang mau mengambil pelajaran. Dalam ayat tersebut diatas Allah
meng-kisahkan bahwa istri-istri kedua Nabi tersebut adalah berkhianat kepada
suaminya. Berkhianat disini bukanlah berkhiatanat dalam hal berzinah ataupun
serong, melainkan berkhianat dalam hal agama dan tauhid.

Allah memberikan perumpamaan kepada orang-orang kafir, bahwa para istri Nabi
tersebut hidup dalam lingkungan dan berbaur dengan orang-orang beriman dan
shalih, akan tetapi bukan jaminan bagi orang-orang yang ingkar, orang-orang
ingkar itu tidak dapat mengambil manfaat semua itu dari Allah bila tidak ada
iman di dada-dada mereka.

Firman Allah , lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, yaitu berkhianat dalam keimanan. Yakni keduanya tidak mau berjalan bersama dalam keimanan dan tidak mempercayaan kerasulan keduanya. Kemudian bahwa kedua Nabi itu tdak bisa membantu istrinya sedikitpun dari siksa Allah lantaran kekufuran mereka berdua. Kemudian Allah berfirman “Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka) “

Berkata Adh Dhahaq, dari Ibnu Abbas :

Artinya: “Istri Nabi tidak ada yang bermiain serong, pengkhianatan keduanya
itu hanyalah dalam hal agama.”. Dan hal ini dikatakan pula oleh ‘Ikrimah dan
Sa’id bin Jubair.


Artinya : Dan Allah membuat istri Firaun perumpamaan bagi orang-orang yang
beriman, ketika ia berkata: "Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di
sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Firaun dan perbuatannya dan
selamatkanlah aku dari kaum yang lalim",
(QS. At Tahrim : 11)

Ayat berikutnya dari surah Al Qashash ini adalah perumpamaan bagi orang
beriman yang ayat sebelumnya membicarakan perumpamaan untuk orang-orang
kafir.

Bahwa pergaulan orang-orang beriman dengan orang-orang kafir tidak akan
mendatangkan mudharat apa-apa bagi mereka, bila memang membutuhkan mereka.
Sebagaimana firman Allah : “Janganlah orang-orang mu'min mengambil
orang-orang kafir menjadi wali (pemimpin) dengan meninggalkan orang-orang
mu'min. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan
Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti
dari mereka (QS. Al Imran :28)”

Berkata Qatadah “Bahwa Fir’aun telah bertindak sewenag-wenag kepada kaumnya
dan mengkafirkan mereka. Maka demi Allah, kekufuran suaminya itu tidak
menimbulakan mudharat bagi istrinyayang ta’at kepada Allah, agar mereka
mengetahui bahwa Allah Ta’ala mempunyai hokum yang adil”

Istri Fir’aun yang shalihah ini bernama Asiah binti Muzahim ra, dia berdo’a
“selamatkanlah aku dari Firaun dan perbuatannya” yaitu lepaskanlah diriku
darinya, sebab aku berlepas diri dari semua perbuatannya demi Engkau. “dan
selamatkanlah aku dari kaum yang lalim” yaitu orang-orang yang telah
menzhalimi diri mereka sendiri dengan melakukan kekufuran terhadap Tuha
langit dan bumi beserta isi dan yang ada pada keduanya, Tuhan segala
sesuatu dan Zat yang layak di sembah.

Demikian pula terjadi kepada istri bendahara Fir’aun, ia telah beriman.
Namun diketahui oleh putrid Fir’aun dan dilaporkan kepada ayahnya. Datanglah
perintah untuk meyiksanya agar dia kembali kufur kepada Allah dan menjadikan
Fir’aun sebagai Tuhan. Namun dia menolak dan mengatakan, Demi Tuhanku dan
Tuhanmu dan Tuhan Segala Sesuatu, Allah saja, hanya kepada-Nya aku
menyembah.

Lalu Fir’aun mengancam bahwa kedua anak istri bendahara Fir’aun titu akan
disembelih pada mulutnya. Dia menantang, berbuatlah sesukamu. Maka Fir’aun
menyembelih putranya satu persatu pada mulutnya.

Baik Istri Fir’aun maupun Istri bendahara Fir’aun menghadapi berbagai macam
ancaman dan siksaan, namun keduanya tidak bergeming untuk kufur kepada
Allah. Hingga siksaan demi siksaan membawa mereka dibunuh oleh kekejaman
Fir’aun. Semoga Allah menyayangi Istri Fir’aun dan istri bendaharawannya,
dan meridhoi keduanya.

Artinya :” dan Maryam putri Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami
tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari roh (ciptaan) Kami; dan dia
membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan Kitab-kitab-Nya; dan adalah dia
termasuk orang-orang yang taat.”
(al – Qashash : 12)ditiupkannya

Ayat dari al Qhashash ayat 12 ini mengkisahkan Maryam putri Imran yang
menjaga kehormatannya selama hidupnya hingga datang ketentuan Allah, yakni
di tiupkannya ke dalam rahimnya ruh ciptaan Allah dan kemudian Maryam
membenarkan takdir dan syari’at-Nya. Dan Maryam adalah termasuk orang-orang
yang taat kepada Tuhan-Nya.

Imam At Thobary berkata

Firman Allah : { dan Maryam putri Imran yang memelihara kehormatannya }
Firman Allah ini seperti (perumpamaan) yang disebutkan sebelumnya yaitu
“perumpamaan bagi orang-orang yang beriman” bahwa Maryam putri Imran yang
memelihara kehormatannya.

Yang bisa di jadikan pelajaran adalah bahwa wanita yang ta’at adalah wanita
yang bisa menjaga kehormatannya dan ridho kepada takdir dan syari’at-Nya
yang telah ditetapkan kepadanya.

Dan (ingatlah kisah) Maryam yang telah memelihara kehormatannya, lalu Kami
tiupkan ke dalam (tubuh) nya ruh dari Kami dan Kami jadikan dia dan anaknya
tanda (kekuasaan Allah) yang besar bagi semesta alam. (QS al Anbiya : 91)

Berkata Imam Ahmad, dari Ibnu Abbas ra :

Artinya: “Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, pernah membuat empat garis
diatas tanah dan bertanya Tahukah kalian apakah garis ini? Mereka berkata
Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Kemudian Rasulullah Shalallahu ‘alaihi
wasallam bersabda “Waniata-wanita penduduk surga yang paling utama adalah
Khadijah binti Khuwalid, Fatimah Binti Muhammad, Maryam binti Imran, dan
Asiah binti Muzahim istri Fir’aun ”


Semoga dari kisah dalam al Qur’an ini bisa diambil manfaatnya, bagaimana
sifat-sifat wanita baik yang ta’at maupun ingkar, meskipun mereka berbaur
dengan orang-orang yang beriman dan zhalim.

Sesungguhnya dari kisah-kisah dalam Al Qur’an itu ada hal yang bisa diambil
pelajarannya, bagi orang yang berfikir

Panduan Puasa Bulan Ramadhan menurut Ayat Qur’an dan Hadits

Assalamu'laikum wr wb,
Kontribusi dari saudara A. Nizami

Berhubung bacaan Arabnya "ngaco" ketika dicopy-paste, untuk doa yang biasa dibaca Nabi pada waktu malam Lailatul Qadar bisa anda baca di:
www.media-islam. or.id

Kewajiban berpuasa dalam Al Qur’an

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan bagi kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan bagi orang-orang sebelummu, agar kamu bertakwa” [Al Baqarah:183]

Keutamaan berpuasa:

“Diriwayatkan dari Sahl bin Saad r.a katanya: Rasulullah s.a.w bersabda: Sesungguhnya di dalam Surga itu terdapat pintu yang dinamakan Ar-Rayyan. Orang yang berpuasa akan masuk melalui pintu tersebut pada Hari Kiamat kelak. Tidak boleh masuk seorangpun kecuali mereka. Kelak akan ada pengumuman: Di manakah orang yang berpuasa? Mereka lalu berduyun-duyun masuk melalui pintu tersebut. Setelah orang yang terakhir dari mereka telah masuk, pintu tadi ditutup kembali. Tiada lagi orang lain yang akan memasukinya” [Bukhari-Muslim]

“Diriwayatkan dari Abu Said al-Khudri r.a katanya: Rasulullah s.a.w bersabda: Setiap hamba yang berpuasa di jalan Allah, Allah akan menjauhkannya dari api Neraka sejauh perjalanan tujuh puluh tahun” [Bukhari-Muslim]

Keutamaan bulan Ramadan

Hadis riwayat Abu Hurairah ra.: Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Apabila tiba bulan Ramadan, maka dibukalah pintu-pintu surga, ditutuplah pintu neraka dan setan-setan dibelenggu Nomor hadis dalam kitab Sahih Muslim: 1793

Wajib berpuasa Ramadan jika melihat hilal awal Ramadan dan berhenti puasa jika melihat hilal awal Syawal. Jika tertutup awan, maka hitunglah 30 hari

Hadis riwayat Ibnu Umar ra.:
Dari Nabi saw. bahwa beliau menyebut-nyebut tentang bulan Ramadan sambil mengangkat kedua tangannya dan bersabda: Janganlah engkau memulai puasa sebelum engkau melihat hilal awal bulan Ramadan dan janganlah berhenti puasa sebelum engkau melihat hilal awal bulan Syawal. Apabila tertutup awan, maka hitunglah (30 hari)
Nomor hadis dalam kitab Sahih Muslim: 1795

Larangan berpuasa satu atau dua hari sebelum bulan

Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Janganlah engkau berpuasa satu atau dua hari sebelum Ramadan, kecuali bagi seorang yang biasa berpuasa, maka baginya silakan berpuasa
Nomor hadis dalam kitab Sahih Muslim: 1812

Dilarang puasa pada hari raya

“Diriwayatkan dari Abu Said al-Khudri r.a katanya: Aku pernah mendengar Rasulullah s.a.w bersabda: Tidak boleh berpuasa pada dua hari tertentu, iaitu Hari Raya Korban (Aidiladha) dan hari berbuka dari bulan Ramadan (Aidilfitri)” [Bukhari-Muslim]

Niat Puasa Ramadhan

Sesungguhnya amal itu tergantung dari niat [Bukhari-Muslim]

Dari Hafshah Ummul Mukminin bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: "Barangsiapa tidak berniat puasa sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya." [Imam Lima]

Bersahur (makan sebelum Subuh) itu sunnah Nabi

“Diriwayatkan daripada Anas r.a katanya: Rasulullah s.a.w bersabda: Hendaklah kamu bersahur karena dalam bersahur itu ada keberkatannya” [Bukhari-Muslim]

Tips agar kuat berpuasa: minumlah 2 sendok makan madu dan 3 butir korma saat sahur. Sunnah melambatkan sahur.

Menyegerakan Berbuka Puasa di waktu maghrib

“Diriwayatkan daripada Umar r.a katanya: Rasulullah s.a.w telah bersabda: Apabila datang malam, berlalulah siang dan tenggelamlah matahari. Orang yang berpuasa pun bolehlah berbuka” [Bukhari-Muslim]

Dari Sahal Ibnu Sa'ad Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Orang-orang akan tetap dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka." [Muttafaq Alaihi]

Menurut riwayat Tirmidzi dari hadits Abu Hurairah ra bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: "Allah 'Azza wa Jalla berfirman: Hamba-hamba- Ku yang paling Aku cintai adalah mereka yang menyegerakan berbuka."

Sunnah berbuka puasa dengan kurma dan air minum (ta’jil) kemudian shalat Maghrib. Setelah itu makan malam.

Dari Sulaiman Ibnu Amir Al-Dlobby bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: "Jika seseorang di antara kamu berbuka, hendaknya ia berbuka dengan kurma. Jika tidak mendapatkannya, hendaknya ia berbuka dengan air karena air itu suci." Riwayat Imam Lima. Hadits shahih menurut Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan Hakim.

Ketika kita berpuasa, kita dilarang berkata kotor, mencaci, atau berkelahi. Hal ini untuk menempa diri kita agar memiliki akhlak yang terpuji:

“Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a katanya: Rasulullah s.a.w bersabda: Apabila seseorang daripada kamu sedang berpuasa pada suatu hari, janganlah berbicara tentang perkara yang keji dan kotor. Apabila dia dicaci maki atau diajak berkelahi oleh seseorang, hendaklah dia berkata: Sesungguhnya hari ini aku berpuasa, sesungguhnya hari ini aku berpuasa” [Bukhari-Muslim]

Puasa yang sia-sia

“Dari Abu Hurairah ra: katanya Rasulullah saw berabda: “Barang siapa tidak meninggalkan ucapan dusta dan berbuat jahat (padahal dia puasa), maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minum” [Bukhari]

Jika kita berpuasa, tapi kita berkata dusta atau menyakiti orang lain, maka sia-sialah puasa kita.

Dilarang bersetubuh pada saat berpuasa

“Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a katanya: Seorang lelaki datang menemui Rasulullah s.a.w lalu berkata: Celakalah aku wahai Rasulullah s.a.w. Rasulullah s.a.w bertanya: Apakah yang telah membuatmu celaka?
Lelaki itu menjawab: Aku telah bersetubuh dengan isteriku pada siang hari di bulan Ramadan.
Rasulullah s.a.w bertanya: Mampukah kamu memerdekakan seorang hamba? Lelaki itu menjawab: Tidak.
Rasulullah s.a.w bertanya: Mampukah kamu berpuasa selama dua bulan berturut-turut? Lelaki itu menjawab: Tidak.
Rasulullah s.a.w bertanya lagi: Mampukah kamu memberi makan kepada enam puluh orang fakir miskin? Lelaki itu menjawab: Tidak. Kemudian duduk. Rasulullah s.a.w kemudiannya memberikan kepadanya suatu bekas yang berisi kurma lalu bersabda: Sedekahkanlah ini. Lelaki tadi berkata: Tentunya kepada orang yang paling miskin di antara kami. Tiada lagi di kalangan kami di Madinah ini yang lebih memerlukan dari keluarga kami.
Mendengar ucapan lelaki itu Rasulullah s.a.w tersenyum sehingga kelihatan sebahagian giginya. Kemudian baginda bersabda: Pulanglah dan berilah kepada keluargamu sendiri” [Bukhari-Muslim]

Bangun dari junub tidak membatalkan puasa

“Diriwayatkan daripada Aisyah dan Ummu Salamah r.a, kedua-duanya berkata:: Nabi s.a.w bangkit dari tidur dalam keadaan berjunub bukan dari mimpi kemudian meneruskan puasa” [Bukhari-Muslim]

Lupa tidak membatalkan puasa

Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa lupa bahwa ia sedang berpuasa, lalu ia makan dan minum, hendaknya ia meneruskan puasanya, karena sesungguhnya ia telah diberi makan dan minum oleh Allah." [Muttafaq Alaihi]

Orang yang sedang dalam perjalanan boleh tidak berpuasa. Tapi wajib menggantinya di lain hari.

Dari Hamzah Ibnu Amar al-Islamy ra bahwa dia berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku kuat berpuasa dalam perjalanan, apakah aku berdosa? Maka Rasulullah SAW bersabda: "Ia adalah keringanan dari Allah, barangsiapa yang mengambil keringanan itu maka hal itu baik dan barangsiapa senang untuk berpuasa, maka ia tidak berdosa." [Bukhari-Muslim]

Orang tua cukup bayar fidyah

Ibnu Abbas ra berkata: Orang tua lanjut usia diberi keringanan untuk tidak berpuasa dan memberi makan setiap hari untuk seorang miskin, dan tidak ada qodlo baginya. Hadits shahih diriwayatkan oleh Daruquthni dan Hakim.

I’tikaf (diam di masjid) pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan

Dari 'Aisyah ra bahwa Nabi SAW selalu beri'tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan hingga beliau wafat, kemudian istri-istri beliau beri'tikaf sepeninggalnya. Muttafaq Alaihi.

Dari 'Aisyah ra bahwa Rasulullah SAW bila hendak beri'tikaf, beliau sholat Shubuh kemudian masuk ke tempat i'tikafnya. Muttafaq Alaihi.

Dari 'Aisyah ra bahwa Nabi SAW bersabda: "Barangsiapa meninggal dan ia masih menanggung kewajiban puasa, maka walinya berpuasa untuknya." Muttafaq Alaihi.

Dari Abu Ayyub Al-Anshory ra bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa berpuasa Ramadhan, kemudian diikuti dengan berpuasa enam hari pada bulan Syawwal, maka ia seperti berpuasa setahun." Riwayat Muslim.

Malam Lailatul Qadr
Dari Ibnu Umar ra bahwa beberapa shahabat Nabi SAW melihat lailatul qadr dalam mimpi tujuh malam terakhir, maka barangsiapa mencarinya hendaknya ia mencari pada tujuh malam terakhir." Muttafaq Alaihi.

Dari Muawiyah Ibnu Abu Sufyan ra bahwa Nabi SAW bersabda tentang lailatul qadar: "Malam dua puluh tujuh." [Abu Daud]

Dari 'Aisyah ra bahwa dia bertanya: Wahai Rasulullah, bagaimana jika aku tahu suatu malam dari lailatul qadr, apa yang harus aku baca pada malam tersebut? Beliau bersabda: "bacalah:


(artinya: Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, Engkau menyukai ampunan, maka ampunilah aku)." Riwayat Imam Lima selain Abu Dawud.

Catatan:
Hadits tersebut sebagian besar berasal dari Al Bayan, dan masih banyak perawinya selain Bukhari dan Muslim seperti Tirmizi, An Nasai, Abu Daud, Ibnu Majah, dan lain-lain.

Monday, August 17, 2009

Menghidupkan Bulan Ramadhan Dengan Sunnah Puasa

Assalamualaikum wR wB

Kontribusi dari saudara Muhammad Abduh Tuasikal

“Makan sahurlah karena sesungguhnya pada sahur itu terdapat berkah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Berikut adalah beberapa sunnah atau amalan-amalan yang dianjurkan ketika melakukan puasa. Semoga bermanfaat.

[1] Mengakhirkan Sahur
Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan dan menganjurkan kepada orang yang hendak berpuasa agar makan sahur. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَصُومَ فَلْيَتَسَحَّرْ بِشَىْءٍ

“Barangsiapa ingin berpuasa, maka hendaklah dia bersahur.” (HR. Ahmad. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani karena memiliki banyak syawahid. Lihat Shohihul Jami’)
Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan demikian karena di dalam sahur terdapat keberkahan. Dari pembantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam –Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu- berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِى السَّحُورِ بَرَكَةً

“Makan sahurlah karena sesungguhnya pada sahur itu terdapat berkah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Keberkahan yang dimaksudkan di sini di antaranya adalah dengan makan sahur seseorang akan menjadi kuat berpuasa mulai dari terbit fajar hingga matahari tenggelam. (Lihat Syarh Riyadhus Sholihin, 3/451, Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)
Barokah lain juga adalah sebagai pembeda antara puasa Yahudi-Nashrani (Ahlul Kitab) dengan umat ini. Dari Amr bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ أَكْلَةُ السَّحَرِ

“Perbedaan antara puasa kita (umat Islam) dan puasa ahlul kitab terletak pada makan sahur.” (HR. Muslim). Orang ahli kitab ketika berpuasa, mereka makan sahur sebelum pertengahan malam dan mereka tidak makan sahur sama sekali. Kaum muslimin diberi keutamaan dalam berpuasa yaitu diberi kemudahan untuk makan sahur.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melarang untuk meninggalkan sahur, di mana beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

السَّحُورُ أَكْلُهُ بَرَكَةٌ فَلاَ تَدَعُوهُ وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جَرْعَةً مِنْ مَاءٍ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى المُتَسَحِّرِينَ

“Sahur adalah makanan yang penuh berkah. Oleh karena itu, janganlah kalian meninggalkannya sekalipun hanya dengan minum seteguk air. Karena sesungguhnya Allah dan para malaikat bershalawat kepada orang-orang yang makan sahur.” (HR. Ahmad. Dikatakan hasan oleh Syaikh Al Albani dalam Shohihul Jami’)
Dan sangat dianjurkan untuk mengakhirkan waktu sahur hingga menjelang fajar. Hal ini dapat dilihat dalam hadits Anas dari Zaid bin Tsabit bahwasanya beliau pernah makan sahur bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri untuk menunaikan shalat. Kemudian Anas berkata,”Berapa lama jarak antara adzan dan sahur kalian?” Kemudian Zaid berkata,”Sekitar 50 ayat”. (HR. Bukhari dan Muslim)

[2] Menyegerakan berbuka
Menyegerakan berbuka akan mendatangkan kebaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ
“Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Menyegerakan berbuka juga berarti seseorang konsisten dalam menjalankan sunnah Nabinya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا تَزَالُ أُمَّتِى عَلَى سُنَّتِى مَا لَمْ تَنْتَظِرْ بِفِطْرِهَا النُجُوْمَ

“Umatku akan senantiasa berada di atas sunnahku selama tidak menunggu munculnya bintang untuk berbuka puasa.” (HR. Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih Targib wa Tarhib). Dan inilah yang ditiru oleh Syi’ah Rafidhah, mereka meniru Yahudi dan Nashrani dalam berbuka puasa yaitu baru berbuka ketika munculnya bintang. Semoga Allah melindungi kita dari kesesatan mereka. (Lihat Shifat Shoum Nabi, hal. 63)
Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berbuka puasa sebelum menunaikan shalat maghrib dan bukanlah menunggu hingga shalat maghrib selesai dikerjakan. Inilah contoh dan akhlaq dari suri tauladan kita shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّىَ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَعَلَى تَمَرَاتٍ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya berbuka dengan rothb (kurma basah) sebelum menunaikan shalat. Jika tidak ada rothb, maka beliau berbuka dengan tamr (kurma kering). Dan jika tidak ada yang demikian beliau berbuka dengan meminum air putih.” (HR. Abu Daud, dikatakan hasan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan Abu Daud). Hadits ini menunjukkan bahwa ketika berbuka dianjurkan berbuka dengan kurma (rothb atau tamr) sebagaimana yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan.

[3] Berdo’a ketika berbuka
Perlu diketahui bersama bahwa do’a ketika berbuka adalah salah satu do’a yang mustajab dan tidak akan ditolak. Maka berdo’alah dengan penuh keyakinan bahwa do’amu akan dikabulkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

“Ada tiga orang yang do’anya tidak ditolak : [1] Pemimpin yang adil, [2] Orang yang berpuasa ketika dia berbuka, [3] Do’a orang yang terdzolimi.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Ibnu Majah. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan Tirmidzi)
Do’a ketika berbuka adalah sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa dulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berbuka beliau membaca :

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

“Dzahabadh dhoma’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah (artinya: Rasa haus telah hilang dan urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan insya Allah)” (HR. Abu Daud. Dikatakan hasan oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan Abi Daud)

[4] Memberi makan orang berbuka
Para pembaca sekalian, beri makanlah kepada orang yang berpuasa karena ini akan mendatangkan pahala dan kebaikan yang melimpah ruah. Lihatlah apa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sabdakan,

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

“Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” (HR. Tirmidzi dan dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan Tirmidzi)

[5] Memperbanyak ibadah di bulan Ramadhan
Di antara petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah memperbanyak berbagai macam ibadah di bulan Ramadhan. Jibril ‘alaihis sallam biasa membacakan Al Qur’an kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam di bulan Ramadhan. Dan apabila Jibril menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, terlihat bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling suka memberi bagaikan hembusan angin. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebaik-baik manusia yang paling banyak bersedekah, berbuat ihsan (kebaikan), membaca Al Qur’an, shalat, dzikir dan i’tikaf. (Zadul Ma’ad, II/29, Ibnul Qayyim, , Mawqi’ul Islam-Maktabah Syamilah)


Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

***

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sunday, August 16, 2009

كيف نستقبل رمضان؟

بسم الله الرحمن الرحيم

مقدمة:
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم تسليماً كثيراً.

أما بعد..
قال تعالى { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ }[البقرة:183]

وقال عز وجل{ شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيَ أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ } [البقرة: 185]

فإن صيام شهر رمضان من الفرائض التي فرضها الله عز وجل وهو ركن من أركان الإسلام، في الحديث المتفق عليه من حديث ابن عمر –رضي الله عنهما- أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال:« بُني الإسلام على خمس: شهادة أن لا إله إلا الله وأن محمداً رسول الله، وإقام الصلاة وإيتاء الزكاة وحج البيت وصوم رمضان ».

فهذه رسالة في كيف نستقبل رمضان وكيف نستثمر أوقاته في طاعة الله والقيام له عز وجل، نسأل الله أن يتقبل منا صالح الأعمال، وصلى الله على محمد وآله وصحبه وسلم.

أخي الحبيب.. أيام تمر وساعات تُقضى وفي النهاية يأتي الأجل المحتوم! فما لنا لا نقف مع أنفسنا وخاصة قبل دخول موسم الطاعة وفرصة العمر، أيام قلائل ويأتي شهر رمضان! وما أدراك ما رمضان؟ شهر أوله رحمة وإحسان، وأوسطه عفو من الله وغفران، وآخره فكاك وعتق من الجحيم والنيران...

شهر رمضان: يقول عنه النبي –صلى الله عليه وسلم- :« رغم أنفه ثم رغم أنفه ثم رغم أنفه" وفي رواية "خاب وخسر كل من أدرك رمضان ولم يُغفر له ذنبه »

فما هو استعدادنا لرمضان؟
لقد استعد أهل الفن بالفوازير والأفلام، واستعد أهل الترف بألوان الطعام، فما هو استعداد من يريد سُكنى الجنان مع خير الأنام؟!

يا باغي الخيـر أقبـل
الوصية الأولى (التوبة)
أول ما ينبغي علينا فعله:
توبة نصوح وندم شديد على ما مضى من الذنوب والأوزار.

فيا أخي المسلم، ويا أختي المسلمة.
* هل أحسست يوماً أن الأرض قد ضاقت عليك بما رحُبت وضاقت عليك نفسك .. وانتابك الهم والحزن والعجز والكسل، فلم تدر أين المفر؟

* هل ساءت علاقتك بمن حولك من أقاربك وأصحابك وأهلك وجيرانك؟

* هل تشعر بعدم البركة في حياتك أو في مالك أو في وقتك أو في تدبير معيشتك؟

* هل لاحظت ما يصيبنا هذه الأيام –أفراداً وجماعات- من مصائب وكوارث، وأمراض وطواعين، وزلازل وفيضانات، وكربات وابتلاءات؟

مهلاً يا صاحب الذنب الثقيل – هذه بعض آثار الذنوب والمعاصي.
فالمعاصي ماتزال بصاحبها حتى تضيق صدره ويقسو قلبه، ويعظم همه، ويزداد حزنه وتتضاعف حيرته، ويتمنى أن يموت فراراً من عذاب الدنيا وضنكها، فكيف بعذاب الآخرة؟!

انتبه يا صاحب الذنب الثقيل فالمعاصي تزيل النعم وتجلب النقم وتسود الوجه وتظلم القلب وتوهن البدن وتنقص الرزق!

يا صاحب الذنب الثقيل.. أبشر
فقد تاب قاتل النفس! وتاب شارب الخمر! وتاب فاعل كذا وكذا. أتيأس من رحمة ربك؟ فإن ربك واسع المغفرة.

{ قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعاً إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ } [الزمر: 53]

فما بينك وبين أن تتوب إلا أن تترك الذنوب.. فعلام تدخل النار؟
يا صاحب الذنب الثقيل .. أبشر وأقبل ...

ها هو رمضان يلوح ويقترب، وأعناق المذنبين تشرئب، وها هي التوبة معروضة ومواسم الطاعات مشهودة، فلئن كنت قد أتعبتك المعاصي وأثقلتك الذنوب فاعلم أن لك رباً يريدك أن تتوب { وَمَن يَعْمَلْ سُوءاً أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللّهَ يَجِدِ اللّهَ غَفُوراً رَّحِيماً }[النساء:110].
وفي الحديث: « يا ابن آدم إنك ما دعوتني ورجوتني غفرت لك على ما كان منك ولا أُبالي ».

فيا أيها العاصي..
تب إلى الله توبة نصوحاً واندم ندماً شديداً على ما فعلت من المعاصي والذنوب!
كيف عصيته وأنت فوق أرضه التي خلق؟!
وتحت سمائه التي فتق! تتنفس من هوائه! وتأكل وتشرب من نعمه وآلائه!
وتعصيه بأعضائك التي أعطاها لك وحرمها غيرك! أفٍ لك!!
هل تستطيع أن تتحمل خيانة من ربيته وأنعمت عليه؟ وأنت لم تخلقه؟

يا لها من نعمة عليك عظيمة أن أمهلك الله حتى هذه اللحظة لتتوب ولم تختطفك ملائكة الموت وأنت على عصيانك فتُلقى في النار!.

اخلُ بنفسك! اعترف بذنبك! ناج ربك! اعصر القلب وتألم! واترك دموعك تسيل على خديك وأنت تذكر غدراتك وهفواتك،وعصيانك وآثامك التي ارتكبتها في حق ربك، الذي لم يزل لك ساتراً ومُنعماً ومُتفضلاً!
طهّر قلبك من أوساخ الذنوب وأدران المعاصي وظلمات الشهوات حتى يكون جديراً بأن يكون محطاً لرحمة الله.

أما الوصية الثانية (شكر نعمة بلوغ رمضان)
فعليك أن تشكر الله على نعمة عظيمة أسداها إليك، بأن مدّ في عمرك حتى تستفيد من هذا الشهر بأنواع الطاعات المختلفة والقربات المتنوعة، فكم من قلوب اشتاقت إلى لقاء رمضان لكن أصبحت تحت التراب، وكم من مرضى وأسرى على الأسرة البيضاء لا يستطيعون الصيام والقيام، فالحمد لله على نعمة الحياة والصحة والعافية، فإذا عرف العبد هذه النعمة وشكرها، حفظها الله. كما قال أحد السلف "قيدوا نعم الله بشكر الله"
فإذا أنعم الله على العبد بنعمة فاستخدمها في طاعته وشكره عليها، حفظها له وزاد له فيها، وإذا لم يشكرها أو استخدمها في معصيته، سلبها منه وقلبها عليه نقمة وعذاباً.

أما الوصية الثالثة (تعلم أحكام رمضان)
عند بداية الشهر تعلّم ما لابد منه من فقه الصيام، وأحكامه وآدابه، والعبادات المرتبطة برمضان من اعتكاف وعمرة وزكاة فطر وغيرها لقوله –صلى الله عليه وسلم- :« طلب العلم فريضة على كل مسلم ».

الوصية الرابعة (العزم والهمة العالية)
عقد النية والعزم الصادق والهمة العالية على صلاح القول والعمل والاجتهاد في الطاعة والذكر وتعمير رمضان بالأعمال الصالحة، وإعطاء الصيام والقيام حقه، قال تعالى { فَلَوْ صَدَقُوا اللَّهَ لَكَانَ خَيْراً لَّهُمْ }[محمد:21]

وما عزم عبد على طاعة الله ونوى بقلبه أن يؤديها فحال بينه وبينها حائل إلا بلغه أجرها.
وكم من أناس ماتوا في أوائل رمضان. هنيئاً لهم إن كانوا عقدوا النية الصالحة في أول الشهر على الطاعة والاجتهاد، فأخلص لله عز وجل في العبادة والنية فإنك لا تدري متى ستموت والله عز وجل يعطي العبد من الخير على قدر نيته وإخلاصه.

الوصية الخامسة (أيام معدودات)
استحضار أن رمضان كما وصفه الله عز وجل أيام معدودات، سرعان ما يولّي، فهو موسم فاضل ولكنه سريع الرحيل، واستحضار أن المشقة الناشئة عن الاجتهاد في العبادة تذهب أيضاً، يبقى الأجر وانشراح الصدر، فإن فرّط الإنسان ذهبت ساعات لهوه وغفلته، وبقيت تباعها وأوزارها! وعن قريب وبعد غد نلتقي في العيد –إن شاء الله- وقد مرّ رمضان كالبرق، فاز من فاز وخسر من خسر!...

الوصية السادسة (استلهام المواعظ والعبر من ذلك الشهر المبارك)
فتتذكر بصيامه الظمأ يوم القيامة، وما أشبه الدنيا بنهار رمضان والآخرة بساعة الإفطار، وما أجمل الفرحة عند الإفطار، وما أحلاها عند أخذ الكتاب باليمين وصدق –صلى الله عليه والسلم- القائل :« للصائم فرحتان، فرحة حين يفطر، وفرحة حين يلقى ربه ».

فهلا جعلنا حياتنا صوم عن المعاصي والشهوات، وإفطارنا عند الله يوم القيامة. وتتعود في نهار رمضان على الصبر والاجتهاد وتزهد في الحلال لتتعلم كيف تزهد في الحرام بعد رمضان، وتتعلم الإخلاص لأن الصيام سر بين العبد وربه، فلا نترك الإخلاص في كل حركاتنا وسكناتنا، فإذا خرجنا من بيوتنا لصلاة القيام ينبغي أن نخلص لله، وألا يكون في قلوبنا إلا الله، فبهذه النية فقط تُرفع الدرجات وتُمحى السيئات.

ونتذكر في رمضان بصومنا إخواننا المسلمين البائسين المحرومين الذين يصومون طوال حياتهم بفقرهم. فتنبعث من القلب بواعث الجود والكرم.

الوصية السابعة (للقائمين الذين يرجون رحمة رب العالمين)
احرص على الاجتهاد في القيام وإياك أن تمل من طول القيام، ساعات قصيرة وينتهي رمضان، فاز فيه من فاز وخسر فيه من خسر، وكم من إمام بحثت عنه لقصر صلاته باعد بينك وبين الجنة وأنت لا تدري، فلا تبخل على نفسك الخير، فهذا من علامات الحرمان، قال –صلى الله عليه وسلم- :« من قام رمضان إيمناً واحتساباً غُفر له ما تقدم من ذنبه ». وقال أبو ذر –رضي الله عنه- :"قمنا مع النبي –صلى الله عليه وسلم- حتى خشينا أن يفوتنا الفلاح (أي الفجر)".

الوصية الثامنة (قراءة القرآن في شهر القرآن)
وأما القرآن فلا تتركه من يدك إن استطعت فالصيام والقرآن يشفعان للعبد يوم القيامة فقد كان بعض السلف يختم في قيام رمضان في كل ثلاث ليالٍ وبعضهم في كل سبع وبعضهم في كل عشر، وكان مالك إذا دخل رمضان يفر من قراءة الحديث ومُجالسة أهل العلم ويُقبل على تلاوة القرآن من المصحف، وكذا سفيان الثوري وكان الأسود يقرأه كله في ليلتين وكان للشافعي ستون ختمة في رمضان...

الوصية التاسعة (الاعتكاف وليلة القدر)
احرص على الاعتكاف والاجتهاد في العشر الأواخر تحرياً لليلة القدر.
قال الإمام الزهري :"عجباً للمسلمين تركوا الاعتكاف مع أن النبي –صلى الله عليه وسلم- ما تركه منذ قدم المدينة حتى قبضه الله –عز وجل-".

الوصية العاشرة (الأذكار)
الاجتهاد في حفظ الأذكار والأدعية المطلقة منها والمقيدة وخاصة المتعلقة برمضان، استدعاء للخشوع وحضور القلب، واغتناماً لأوقات إجابة الدعاء في رمضان، والاستعانة على ذلك بدعاء :"اللهم أعنّي على ذكرك وشكرك وحسن عبادتك".

وهذه بعض الأذكار الثابتة المتعلقة بوظائف رمضان:
• كان –صلى الله عليه وسلم- يقول إذا رأى الهلال :« اللهم أهلّه علينا باليُمن والإيمان والسلامة والإسلام، ربي وربك الله ».

• كان إذا رأى القمر قال وأمر السيدة عائشة أن تقول :« أعوذ بالله من شر هذا الغاسق إذا وقب ».

• وكان إذا صام فأراد الفطر دعا وقال :"« ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الأجر إن شاء الله ».

• وكان ابن عمر –رضي الله عنهما- يقول عند فطره :"اللهم إني أسألك برحمتك التي وسعت كل شئ أن تغفر لي".

الوصية الحادية عشر (احذر الذنوب)
احذر نفسي وإياك من صغائر الذنوب في رمضان، لأن العصيان في هذا ليس كسائر الشهور وذلك لحرمته ومكانته بين الشهور!
وكيف تتقرب إلى الله بترك المباح ثم تنظر إلى الحرام، وتتكلم بالحرام، وتستمع إلى الحرام؟!

يا باغي الشر أقصر
إن أول شر يرتكبه أهل الغفلة وبُغاة الشر هو أنهم يستثقلون هذا الشهر ويعدون أيامه ولياليه وساعاته، لأن رمضان يحجب عنهم الشهوات ويمنعهم من الملذات.

هذا لأهل الغفلة قديمًا وباقي فلولهم حديثًا، أما معظم أهل الغفلة في زماننا فإنهم يستقبلونه استقبالاً آخر وكأنهم لا يستقبلون ركنًا من أركان الإسلام!
يستقبلونه إما بالفوازير والأفلام والسهر حتى الصباح وإما بألوان الطعام يأكلونه حتى التخمة، وإما أنه عادة موروثة ينامون نهاراً ويأكلون ليلاً!!
فهذا نداء إلى كل الشاردين البعيدين عن الله في شهر رمضان، أن يكفوا عن هذه المعاصي توقيراً وتعظيماً لحرمة الله. ولا يغتروا بحلم الحليم فإنه إذا غضب لا يقم لغضبه شيء.
{ وَكَذَلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ الْقُرَى وَهِيَ ظَالِمَةٌ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ }[هود:102]

* يا متعمد الإفطار في رمضان .. أقصر
ففي الحديث الصحيح :« بينما أنا قائم أتاني رجلان، فأخذا بعضدي فأتيا بي جبلاً وعراً، فقالا: اصعد. فقلت: إني لا أطيقه. فقالا: سنسهله لك. فصعدت، حتى إذا كنت في سواد الجبل إذا بأصوات شديدة، قلت: ما هذه الأصوات؟ قالوا: "هذا عواء أهل النار، ثم انطلقا بي، فإذا أنا بقوم معلقون بعراقيبهم مشققة أشداقهم، تسيل أشداقهم دماً، قال: قلت: من هؤلاء؟ قال: الذين يفطرون قبل تحلة صومهم ».

فإذا كان هذا وعيد من يفطرون قبل غروب الشمس ولو بدقائق معدودات، فكيف بمن يفطر اليوم كله؟!
قال شيخ الإسلام ابن تيمية –رحمه الله- :"من أفطر متعمداً بغير عذر كان تفويته لها من الكبائر"

وقال الحافظ الذهبي –رحمه الله- :"وعند المؤمنين مقرراً أن من ترك صوم رمضان بلاعذر أنه أشر من الزاني ومدمن الخمر، بل يشُكّون في إسلامه، ويظنون به الزندقة والإخلال".

* يا تارك الصلاة .. أقصر..
وأعظم بغاة الشر في رمضان تارك الصلاة الذي لا يتوب من جريمة كبرى، قال الله –سبحانه- في شأن تاركها: { مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ }[المدثر:42-43]

وفي الحديث الصحيح: « العهد الذي بيننا وبينهم الصلاة فمن تركها فقد كفر » وأيضاً :« بين الرجل وبين الشرك والكفر ترك الصلاة ».

وقال الإمام ابن حزم –رحمه الله- :« لا ذنب بعد الشرك أعظم من ترك الصلاة حتى يخرج وقتها، وقتل مؤمن بغير حق ».

وقال الإمام ابن القيم –رحمه الله- :"لا يختلف المسلمون أن ترك الصلاة المفروضة عمداً من أعظم الذنوب وأكبر الكبائر، وإن إثمه عند الله أعظم من قتل النفس وأخذ الأموال، ومن إثم الزنا والسرقة وشرب الخمر، وإنه متعرض لعقوبة الله وسخطه وخزيه في الدنيا والآخرة".
يا تاركاً لصلاته إن الصلاة لتشتكــــي
وتقول في أوقاتها الله يلعــن تــاركـي

* يا أيتها المتبرجة .. أقصري..
ومن بغاة الشر في هذا الشهر الكريم المتبرجات بزينة اللائي لا ينوين التوبة من هذه الكبيرة، بل يبغون الفساد بالإصرار على إظهار الزينة للأجانب من الرجال والخروج إلى الأسواق والطرقات والمجامع متعطرات متطيبات، كاسيات عاريات... فاتق الله يا أمة الله في نفسك وفي عباد الله الصائمين، ولا تكوني رسول الشيطان إليهم لتفسدي قلوبهم، وتشوشي صيامهم، بل قري في بيتك، فإن خرجت ولابد فاستتري بالحجاب الكامل وتأدبي بآداب الإسلام.

أختي المسلمة: احذري من التبرج فإن التبرج كبيرة موبوقة.. يجلب اللعان والطرد من رحمة الله.. التبرج صفة من صفات أهل النار.. التبرج سواد وظلمة يوم القيامة... التبرج نفاق وفاحشة.. التبرج تهتك وفضيحة.

وهذا كله ثابت بالأحاديث الصحيحة ومنها: قوله –صلى الله عليه وسلم- :« سيكون في آخر أمتي نساء كاسيات عاريات، على رؤسهن كأسنمة البخت، العنوهن فإنهن ملعونات ».

ومنها قوله –صلى الله عليه وسلم- :« خير نسائكم الودود الولود، المواتية، المواسية، إذا اتقين الله، وشر نسائكم المترجلات المتخيلات، وهن المنافقات، لا يدخل الجنة منهم إلا مثل الغراب الأعصم ».
فاحذري من التبرج فإنه الطريق إلى النار.

* يا أهل الفن والإعلام .. أقصروا..
إن رمضان فرصة ثمينة للتوبة والإنابة إلى الله –عز وجل-، وأنتم تحولونه إلى فرصة لنشر الفساد وإشاعة الفواحش، فانضموا إلى صفوف أولياء الله المتقين، وسخّروا الإعلام في خدمة الدين، وإشاعة المعروف والنهي عن المنكر، ذكّروهم بالقرآن والسنة، ولا تشغلوهم بالأغاني والمسلسلات، والفوازير والراقصات، قبيح بكم أن تبارزوا ربكم في شهره الكريم وتُكثّفوا حربكم على الدين والأخلاق، كأنكم تشفقون من بور تجارتكم الشيطانية في هذا الشهر المبارك، فتضاعفوا من مجهودكم لتصدوا الناس عن سبيل الله –عز وجل- وتبغونها عوجاً.

إن المنادي يناديكم من أول ليلة في رمضان.. أقصروا يا بغاة الشر.. فإن أصررتم فإن ربكم لبالمرصاد، قال تعالى { إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَن تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ }[النور:19]

ويا أيها المسلمون الصائمون: فروا من الفيديو والتلفاز والصحف الفاسدة فراركم من الأسد. إن الفنانين هم قطاع الطريق إلى الله إنهم ممن قال الله فيهم { أُوْلَـئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَاللّهُ يَدْعُوَ إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ }[البقرة:221] وقال {ولا تطع من أغفلنا قلبه عن ذكرنا واتبع هواه وكان أمره فرطاً}[الكهف:28]

وقال { إِنَّ السَّاعَةَ ءاَتِيَةٌ أَكَادُ أُخْفِيهَا لِتُجْزَى كُلُّ نَفْسٍ بِمَا تَسْعَى فَلاَ يَصُدَّنَّكَ عَنْهَا مَنْ لاَ يُؤْمِنُ بِهَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَتَرْدَى }[طه:15-16]

وقال عنهم { وَاللّهُ يُرِيدُ أَن يَتُوبَ عَلَيْكُمْ وَيُرِيدُ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الشَّهَوَاتِ أَن تَمِيلُواْ مَيْلاً عَظِيماً }[النساء:27].

فتذكر يا عبد الله الصائم قوله –تبارك وتعالى- { وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولـئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولاً }[الإسراء:36].

وأهل الفن يدعونك إلى زنا العين، وزنا الأذن، فكيف تطاوعهم وأنت مسلم؟! الأولى بك أن تبغضهم في الله، لأن عدو حبيبي عدوي!

وكيف تشاركهم وأنت صائم؟! وكيف لا تقول إذا دعتك الشياطين لهذه المعاصي "إني صائم ، إني صائم"؟!

كيف تحرم نفسك من الحلال ثم تستبيح ما هو حرام قطعاً؟!
ألا ما أصدق قول الصادق المصدوق :« رب صائم حظه من صيامه الجوع والعطش ».

فيا عاكفين أمام الممثلات والراقصات { إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ مَا هَذِهِ التَّمَاثِيلُ الَّتِي أَنتُمْ لَهَا عَاكِفُونَ }[الأنبياء:53]

وأين أنتم من عباد الرحمن { وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَاماً }[الفرقان:72]، { وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ }[المؤمنون:3].

لقد بيّن الله –سبحانه وتعالى- الحكمة من تشريع الصيام في قوله –جل وعلا- { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ }[البقرة:183].
هل أنتم تحصّلون التقوى من وراء هذا الإعلام؟!

* يا أصحاب المقاهي ومحلات الفيديو وأشرطته.. أقصروا..
اتقوا الله يا أصحاب المقاهي، ولا تفتحوا المجال أمام المسلمين للبعد عن المساجد، بل احملوهم على الطاعة والله –عز وجل- هو الذي يرزقكم...
يا أصحاب المقاهي .. هل تعطون الطريق حقها؟!
ففي الحديث :« إياكم والجلوس على الطرقات، فإن أبيتم إلا المجالس فأعطوا الطريق حقها، غض البصر، وكف الأذى، ورد السلام، والأمر بالمعروف ، والنهي عن المنكر ».

فأين هذه الحقوق؟! أم إنكم تأمرون بالمنكر وتنهون عن المعروف؟!
• اتقوا الله يا أصحاب محلات الفيديو وأقصروا!
كم تملأون بيوت المسلمين بالفحش والخلا؟
فتطردون ملائكة الرحمن وتأتون بأفواج الشياطين؟
كم أوقدتم من نيران الشهوات في قلوب الشباب والفتيات بسبب أشرطتكم وما فيها من مناظر؟!
بل كم من جرائم الزنا والاغتصاب اُتُكبت وكنتم أنتم السبب فيها! أكُل هذه الأوزار من أجل دراهم معدودة تأتي من الحرام؟!

فلا بارك الله فيها، وتتركون أسباب الرزق الحلال الواسعة. أخشى والله عليكم أن تكونوا من أهل هذه الآية { لِيَحْمِلُواْ أَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُم بِغَيْرِ عِلْمٍ أَلاَ سَاء مَا يَزِرُونَ }[النحل:25]

جدول يومي في رمضان
أخي الحبيب: احرص على هذا الجدول اليومي لتحصل على أكبر قدر من الحسنات والله يوفقني وإياك...

1- الإقلال من الكلام مع الناس إلا في الذكر وتلاوة القرآن.

2- احرص على الجلوس أكبر وقت ممكن في المسجد.

3- أكثر من الصدقة في رمضان؛ فأفضل الصدقة في رمضان ومن أفطر صائماً كان له مثل أجره من غير أن ينقص من أجره شيئًا.

4- لا تكثر من الأكل عند الإفطار حتى تستطيع القيام واجعل وجبتك الرئيسية بعد صلاة التراويح لتنام بعدها قليلاً، واحرص على ساعة القيلولة ولا تجهد نفسك نهارًا بما لا يفيد لتستطيع قيام الليل.

5- لا تكثر من النوم في رمضان؛ فإن كثرة النوم تتركك فقيرًا من الحسنات، وسوف ينتهي رمضان وأين هي راحة أولئك وتعب هؤلاء؟!
ذهبت وما بقيت إلا الحسنات أو السيئات، واعلم أن مقامك في الدنيا قليل والمكث في القبور طويل.

وأخيراً ... لتكن عالي الهمة في العبادة والتقوى والخشية والإنابة والصيام والقيام وتلاوة القرآن والدعاء والدعوة وإن استطعت ألا يسبقك إلى الله أحد فافعل. قيل للإمام أحمد :"متى يجد العبد طعم الراحة؟" قال :"إذا وضع قدمه في الجنة".

وقد أجمع العقلاء أنه لا سعادة لمن لا هم له ولا راحة لمن لا تعب له، وأن من آثر الراحة فاتته الراحة، فاتعب قليلاً لتسترح طويلاً واصبر قليلاً من أجل الجنة.
فيا شموس التقوى والإيمان اطلعي، ويا صحائف أعمال الصالحين ارتفعي، ويا قلوب الصائمين اخشعي، ويا أقدام المتهجدين اسجدي لربك واركعي، ويا عيون المتهجدين لا تهجعي، ويا دوع التائبين لا ترجعي، ويا أرض الهوى ابلعي ماءك ويا سماء النفوس أقلعي، ويا همم المُحبين بغير الله لا تقنعي، ويا همم المؤمنين أسرعي، فطوبى لمن أجاب فأصاب وويل لمن طُرد عن الباب فخاب.

أحمد بن فاروق

Friday, August 14, 2009

'Know Allah in prosperity; He'll remember you in adversity'

A believer should be with Allah under all circumstances – in weakness and in strength, in poverty and prosperity, in happiness and sorrow, in the flower of youth and in old age, in outward expression, and in the deepest recesses of the soul.



It is very nice to speak about the great people of history – the reformers, the leaders, the scholars, and cultural icons. Far better than that is to speak about the Prophets and Messengers, at the forefront of whom is Muhammad (peace be upon him). But better and greater than all of that is to speak of the majesty of our Lord and of His most noble names and attributes. We need to remain mindful of Allah at all times, as our Prophet advised us: "Be mindful of Allah in prosperity, and He will remember you in adversity." [Sunan al-Tirmidhî (2516)]



We remain mindful of Allah be mentioning and contemplating his beautiful names and sublime attributes. This God-consciousness provides solace in times of sorrow, reassurance in times of fear, strength in times of weakness, sufficiency in times of want. Allah is the source of honor and strength that never wavers and that knows no limit.



All people, no matter how powerful, wealthy, or famous they might be, sooner or later feel the need to turn to Allah. However, many only do so when their backs are to the wall and they have nowhere else to turn. When misfortune strikes, when the pain becomes too much to bear, or when faced with the imminent prospect of death, only then do they cry out: "O Allah!"



Even those who at some time in their lives deny that Allah exists – and this goes equally for those advocates of atheism who spend most of their lives touring and lecturing people to convince them that there is no God – as soon as they are faced with a major life crisis they realize how powerless they are and, willfully or instinctively, cry out: "O Allah!"



None other than Pharaoh, the man who boasted "I am your Lord on high!", and: "I know of no other god but myself!" was forced at the end of his life to declare his faith in Allah. When the sea was falling upon him and his death by drowning was imminent, he cried: "I believe that there is no god but the God of the Children of Israel."



At that final moment, Pharaoh believed in Allah. He called out to his Lord and beseeched Him. But it was too late.



Allah said: "What! Now! When hitherto you had rebelled and been of the spoilers? But We will this day deliver forth your body so that you may be a sign to those after you, and most surely the majority of the people are heedless to Our communications." [Sûrah Yûnus: 91-92]



This is the lot of those who are arrogant and shun their Lord, thinking Him to be of little consequence, because they are beguiled by the charms of their worldly lives: by the prospects of wealth, power and beauty that they see before them. They might ultimately turn to their Lord, only when it is too late to avail them. This is the time of death – the time when a person moves from the realm of free will to the realm of Divine Decree, from the world where knowledge of Allah's promise requires faith in the unseen to the world where the articles of faith come into plain sight. This is the time when faith is of no benefit for someone who had not believed beforehand.



"But their faith could not avail them after they saw Our doom. This is Allah's law which has ever taken course for His servants. And then the disbelievers are ruined." [Sûrah Ghâfir: 85]



We should think about the fate of all those dictators and despots whose names have gone down in history: the likes of Genghis Khan, Hulagu, Hitler, and Stalin, despoilers of the world who never gave a single thought of their duty to Allah.



For believers, the, why should they not turn readily and willingly to Allah and not wait until the pain of their circumstances forces their hearts?



What does it cost us? Drawing close to Allah does not keep us away from any of life's wholesome pleasures. It does not take away from our provisions. Instead, it blesses our provisions and makes them more bountiful. God-consciousness safeguards us from the quagmire of vice where so many people waste away their lives and earn nothing of account for their worldly lives or for their souls.



The best and brightest times in a person's life are those times spent in closest communion with the Lord – not only when we speak about Allah, give thanks to Him, or busy ourselves in His worship, but also in our everyday lives when we remain conscious of our obedience to Him or help our fellow human beings, or serve the common good.



Indeed Allah has made all of this easy for us: "And He has made of service to you everything in the heavens and on Earth. I t is all from Him. Most surely there are signs in this for those who reflect. " [Sûrah al-Jâthiyah: 13]



Our Lord is close to us. Every heartbeat, every fleeting thought, every movement of our bodies, each moment of every day and every night is in the Lord's hands. Not an atom's weight of our concerns escapes Him.



Allah said to Moses: "I am with you, I hear and I see." [Sûrah TâHâ: 46]



We would consider it a shame to forget a dear fried whom we love and long to meet again. We would feel it a shame to forget someone who has been kind to us and stood by our sides throughout our hardships and our sorrows and gave us the support that we needed when we were too weak to cope on our own.



Allah is greater than all of that. He is closer to you than your jugular vein. It is unfitting for someone who believes in Allah to forget Him for even a moment.


--> Be mindful of Allah in prosperity, and He will remember you in adversity." [.Sunan al-Tirmidhî (2516)] A believer should be with Allah under all circumstances – in weakness and in strength, in poverty and prosperity, in happiness and sorrow, in the flower of youth and in old age, in outward expression, and in the deepest recesses of the soul.

It is very nice to speak about the great people of history – the reformers, the leaders, the scholars, and cultural icons. Far better than that is to speak about the Prophets and Messengers, at the forefront of whom is Muhammad (peace be upon him). But better and greater than all of that is to speak of the majesty of our Lord and of His most noble names and attributes. We need to remain mindful of Allah at all times, as our Prophet advised us: "Be mindful of Allah in prosperity, and He will remember you in adversity." [Sunan al-Tirmidhî (2516)]

We remain mindful of Allah be mentioning and contemplating his beautiful names and sublime attributes. This God-consciousness provides solace in times of sorrow, reassurance in times of fear, strength in times of weakness, sufficiency in times of want. Allah is the source of honor and strength that never wavers and that knows no limit.

All people, no matter how powerful, wealthy, or famous they might be, sooner or later feel the need to turn to Allah. However, many only do so when their backs are to the wall and they have nowhere else to turn. When misfortune strikes, when the pain becomes too much to bear, or when faced with the imminent prospect of death, only then do they cry out: "O Allah!"

Even those who at some time in their lives deny that Allah exists – and this goes equally for those advocates of atheism who spend most of their lives touring and lecturing people to convince them that there is no God – as soon as they are faced with a major life crisis they realize how powerless they are and, willfully or instinctively, cry out: "O Allah!"

None other than Pharaoh, the man who boasted "I am your Lord on high!", and: "I know of no other god but myself!" was forced at the end of his life to declare his faith in Allah. When the sea was falling upon him and his death by drowning was imminent, he cried: "I believe that there is no god but the God of the Children of Israel."

At that final moment, Pharaoh believed in Allah. He called out to his Lord and beseeched Him. But it was too late.

Allah said: "What! Now! When hitherto you had rebelled and been of the spoilers? But We will this day deliver forth your body so that you may be a sign to those after you, and most surely the majority of the people are heedless to Our communications." [Sûrah Yûnus: 91-92]

This is the lot of those who are arrogant and shun their Lord, thinking Him to be of little consequence, because they are beguiled by the charms of their worldly lives: by the prospects of wealth, power and beauty that they see before them. They might ultimately turn to their Lord, only when it is too late to avail them. This is the time of death – the time when a person moves from the realm of free will to the realm of Divine Decree, from the world where knowledge of Allah's promise requires faith in the unseen to the world where the articles of faith come into plain sight. This is the time when faith is of no benefit for someone who had not believed beforehand.

"But their faith could not avail them after they saw Our doom. This is Allah's law which has ever taken course for His servants. And then the disbelievers are ruined." [Sûrah Ghâfir: 85]

We should think about the fate of all those dictators and despots whose names have gone down in history: the likes of Genghis Khan, Hulagu, Hitler, and Stalin, despoilers of the world who never gave a single thought of their duty to Allah.

For believers, the, why should they not turn readily and willingly to Allah and not wait until the pain of their circumstances forces their hearts?

What does it cost us? Drawing close to Allah does not keep us away from any of life's wholesome pleasures. It does not take away from our provisions. Instead, it blesses our provisions and makes them more bountiful. God-consciousness safeguards us from the quagmire of vice where so many people waste away their lives and earn nothing of account for their worldly lives or for their souls.

The best and brightest times in a person's life are those times spent in closest communion with the Lord – not only when we speak about Allah, give thanks to Him, or busy ourselves in His worship, but also in our everyday lives when we remain conscious of our obedience to Him or help our fellow human beings, or serve the common good.

Indeed Allah has made all of this easy for us: "And He has made of service to you everything in the heavens and on Earth. I t is all from Him. Most surely there are signs in this for those who reflect. " [Sûrah al-Jâthiyah: 13]

Our Lord is close to us. Every heartbeat, every fleeting thought, every movement of our bodies, each moment of every day and every night is in the Lord's hands. Not an atom's weight of our concerns escapes Him.

Allah said to Moses: "I am with you, I hear and I see." [Sûrah TâHâ: 46]

We would consider it a shame to forget a dear fried whom we love and long to meet again. We would feel it a shame to forget someone who has been kind to us and stood by our sides throughout our hardships and our sorrows and gave us the support that we needed when we were too weak to cope on our own.

Allah is greater than all of that. He is closer to you than your jugular vein. It is unfitting for someone who believes in Allah to forget Him for even a moment.
Source: AJP

Thursday, August 13, 2009

Berdekat-dekatlah Dengan Al-Qur'an

Assalamu'alaikum wR wB

Kontribusi dari Wahyu Heryawan


"Orang yang dalam dadanya tidak ada sedikit pun dari Alquran, ibarat rumah yang bobrok." (HR. At-Tirmidzi)

Maha Bijaksana Allah swt. yang menciptakan kehidupan dengan segala kelengkapannya. Laut yang luas dengan segala kandungannya.

Langit yang biru dengan gemerlap hiasan bintang-bintangnya. Dan kehidupan manusia dengan kelengkapan aturan dan rambu-rambunya.

Berdekat-dekatlah dengan Al-Qur'an, hati akan memperoleh kesegaran. Hati sebenarnya mirip dengan tanaman. Ia bisa segar, layu,

dan kering. Karena itu, hati butuh sesuatu yang bisa menyuburkan: siraman air yang menyejukkan, kehangatan matahari yang menguatkan,

dan tanah gembur yang banyak makanan.

Untuk hati, siraman air adalah cahaya Al-Qur'an, kehangatan matahari adalah nasihat, dan tanah gembur merupakan lingkungan yang baik.

Hati yang selalu dekat dengan Alquran bagaikan tanaman yang tumbuh di sekitar mata air nan jernih. Ia akan tumbuh subur dan kokoh.

Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah saw. bersabda, "Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah-rumah Allah untuk melantunkan ayat-ayat
suci Al-Qur'an dan mempelajarinya, melainkan akan turun kepada mereka ketenangan, dilingkupi pada diri mereka rahmat, dilingkari para
malaikat, dan Allah pun akan menyebut (memuji) mereka pada makhluk yang ada di dekat-Nya."
(HR. Muslim)

Berdekat-dekatlah dengan Al-Qur'an, pandangan akan menemukan kejernihan. Secanggih apa pun sebuah gagasan, pemikiran;

selama tidak bersandar pada Al-Qur' an, selama tidak dibimbing Al-Qur'an, hanya akan berkutat pada
persoalan teknis. Bukan sesuatu yang ideal. Hanya akan berkutat pada materi dan materi.

Itulah yang diraih peradaban Barat saat ini. Sekilas kehidupan masyarakatnya seperti makmur sejahtera, padahal nilai-nilai sosial di
sana sudah luntur. Idealita hidup menjadi begitu dangkal. Nilai hidup dan kemanusiaan menjadi tidak begitu dihargai.

Begitu pun ketika umat Islam berjarak dengan Al-Qur'an. Semakin jauh, pola pikir akan terjebak pada persoalan materi.

Masalah yang muncul tidak pernah terselesaikan. Karena gagasan tidak mampu menyentuh
persoalan inti, cuma berkutat pada yang kulit.

Krisis bangsa ini ada pada sisi moral. Dan itu ada dalam jiwa manusia. Upaya perubahan tidak akan punya arti jika

tanpa ada pembenahan pada jiwa manusia. Allah swt. berfirman, ".Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum

sehinga mereka mengubah keadaan yang ada pada jiwa mereka sendiri.." (Ar-Ra'du: 11)

Berdekat-dekat dengan Al-Qur'an akan menyegarkan jiwa. Segala syahwat buruk yang melahirkan emosi jahat bisa terkikis.

Pandangan pun akan menjadi jernih. Maha Suci Allah dalam firman-Nya, "Dan Kami turunkan
dari Alquran suatu yang menjadi obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, dan Alquran itu tidaklah menambah kepada orang-orang zalim
selain kerugian." (Al-Isra': 82)

Berdekat-dekatlah dengan Alquran, langkah akan mendapat bimbingan. Siapapun kita, tetap tidak bisa keluar dari sifat sebagai manusia.

Kadang melangkah dengan semestinya, kadang juga tersasar. Inilah di antara kelemahan manusia yang tidak bisa menentukan dengan

kemampuan dirinya: mana jalan yang benar, dan mana yang tidak. Ia butuh bimbingan.

Hati yang segar dan pemikiran yang jernih akan menggiring langkah ke jalan yang lurus. Khusus mereka yang selalu dekat dengan Al-Qur'an,
jalan kehidupan seperti dilengkapi rambu-rambu. Begitu jelas.

Kalaupun ia tersasar karena sifat manusianya, akan ada rasa tidak nyaman. Firasat imannya seperti memberikan sinyal.

Bisa dalam bentuk kegelisahan, keraguan, dan sebagainya. Ia tidak lagi butuh teguran apalagi hukuman.

Cukup dengan isyarat dari Allah swt., kesadaran pun kembali segar.

"Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Al-Hadiid: 28)

Berdekat-dekatlah dengan Al-Qur'an, kita tidak akan pernah sendirian.Keimanan dalam hati seseorang bisa terang,

bisa juga redup. Ketika redup itulah, seorang mukmin seperti dalam kesendirian. Ada ketakutan, putus
asa, ketidakmampuan, dan sejenisnya. Dunia seperti hutan lebat tanpa seorang pun di sana, kecuali dia seorang. Ia sangat butuh teman.

Seorang mukmin yang membaca Al-Qur'an, ia seperti sedang berdialog dengan seorang teman sejati.

Yang siap menunjukkan yang salah dan yang benar. Ia menuntun sang teman kepada jalan yang baik, penuh kebahagiaan
dan keselamatan.

Rasulullah saw. mengatakan, "Siapa yang ingin berdialog dengan Rabbnya, maka hendaklah dia membaca Al-Qur'an." (HR. Adailami dan Al-Baihaqi)

Kini semua pilihan terhampar. Petunjuk dan rambu-rambu pun sudah diberikan. Tinggal kita yang harus menentukan: memilih jalan bersama Al-Qur'an, atau tidak. Maha Benar Allah dalam firman-Nya, ".maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir.." (Al-Kahfi: 29)

Wallahualam bisawab.

MELEPAS BELENGGU “NANTI”

Assalamualaikum wR wB

Kontribusi lagi dari saudara Akhrudianto

“Pergunakanlah lima perkara sebelum datang lima perkara yang lain;
kehidupanmu sebelum datang kematianmu, kesehatanmu sebelum datang
penyaitmu, kekosonganmu sebelum datang kesibukanmu, masa mudamu sebelum
datang masa tuamu dan kekayaanmu seblum datang kemiskinanmu.
(H.R.
Hakim)

Sahabat, ‘Nanti’ adalah sebuah kata yang berarti ‘penundaan’. Kalimat
ini kerap kita ungkapkan dalam setiap aktivitas yang belum
terselesaikan. Boleh jadi, kalimat ini tak terlalu salah kita ungkapkan
setelah sebelumnya berusaha keras untuk menyelesaikan pekerjaan. Tetapi
jika berkaitan dengan sebuah kewajiban yang harus segera kita lakukan,
maka kalimat '‘nanti’ ini akan berdampak kepada sikap menganggap remeh
pekerjaan. Ketahuilah; diantara kewajiban kita terhadap hari-hari yang
terlewati adalah mengisinya dengan ilmu dan amal sholeh, karena hidup
kita bukanlah besok atau juga kemaren, tetapi hidup kita adalah hari
ini. Karena ‘kemaren’ adalah waktu yang tak akan kembali dan ‘besok’
adalah waktu yang tak pernah kita ketahui.

Penting untuk kita renungkan, sebuah tulisan seorang pengembara; ia
adalah Muhammad bin Samrah. Kepada sahabatnya ia menulis surat;

“Hai saudaraku…!, jauhilah dirimu dari menunda pekerjaan.
Jagalah ! jangan sampai hal itu bersarang di dalam hatimu.
Menunda pekerjaan berarti bersahabat dengan kerusakan,
karena itulah adalah tempatnya kemalasan.
Menunda pekerjan berarti memutuskan cita-cita
dan penyia-nyiaan terhadap umur.

Jika kamu berbuat demikian, itu akan menjadi kebiasaanmu.
Jauhilah ragamu dari kebosanan yang telah berpaling darimu,
Karena itu tidak mendatangkan manfaat bagi jiwamu.

Hai Saudaraku…!, kamu akan selalu gembira, bila pekerjaanmu
telah kamu lakukan atau kamu akan menyesal bila kamu melalaikannya.

Saudaramu Sahabat, siapakah yang dapat menjamin seseorang dapat hidup
hingga esok hari. Secanggih apapun ilmu yang kita dapati, tak akan
mampu menahan kematian yang menghampiri. Sebanyak apapun harta yang
kita miliki, tak akan mampu membeli sebuah nyawa yang sudah diakhiri
dan sehebat apapun kekuasaan yang telah kita raih, tak akan bisa
mempengaruhi ketentuan ilahi. Karenanya, merupakan satu keberuntungan,
bila kita segera mengerjakan kebaikan dan menunaikan kewajiban. Dan
merupakan suatu kelemahan atau kerugian, jika kita menundanya sehingga
kesempatan berakhir.

Oleh karenanya sahabat, lepaslah belenggu ‘nanti’ dalam diri, sebab
keberadaannya hanya akan mendatangkan penyesalan panjang dalam hati.
Satu waktu; Umar bin Abdul Aziz dalam kelelahan karena begitu banyaknya
pekerjaan, ia mengungkapkan; “Pekerjaanku satu hari saja telah
membuatku menjadi letih, bagaimana kalau pekerjaan dua hari dikumpulkan
menjadi satu…?.

Sahabat, kita merasakan penyesalan yang teramat dalam bila kita secara
teledor menunda-nunda pekerjan yang seharusnya terselesaikan. Karena
dengan membiasakannya, kita akan menghadapi beban berat karena
bertambahnya pekerjaan. Terlebih ketika yang kita tunda adalah
kewajiban melaksanakan taat dan menunda untuk bertaubat dari perilaku
maksiat. Semakin kita biarkan hati berselimut maksiat, maka akan
semakin sulit membersihkannya karena sudah terlanjur berkarat.
Karenanya, segeralah bertaubat sebelum terlambat. Jangan biarkan hati
tertambat pada prilaku maksiat, karena hidup tak akan terasa nikmat
bila tak ada taat, di dunia tak mendapat rahmat dan tak mendapat tempat
yang layak di akhirat . Ahmad bin Athaillah menasehati: “ Penundaanmu
akan semua amal (kebaikan) karena menanti adanya waktu senggang
termasuk dari kebodohan-kebodohan jiwa”.

“YA Allah, jadikanlah sebaik-baik dari umurku adalah akhirnya,
sebaik-baik dari pekerjaanku adalah penutupannya dan sebaik-sebaiknya
hari-hariku adalah hari aku menghadap Engkau.”.