Thursday, September 3, 2009

PENTINGNYA TETAP ISTIQAMAH DAN TAQARRUB KEPADA ALLAH SWT

Assalamualaikum wR wB

Kontribusi dari saudara Wirawan


*[Al-Islam 471] *Pada bulan suci Ramadhan kali ini, umat Islam, selain
sedang diuji kesabarannya dalam menjalani hari-hari puasanya sebulan penuh,
juga sedang diuji kesabarannya menghadapi fitnah akibat isu terorisme yang
akhir-akhir ini sengaja dimunculkan kembali, diekspos terus-menerus dan
dikaitkan dengan Islam dan kaum Muslim. Ujian ini terutama menimpa para
pengemban dakwah, baik individu maupun lembaga dakwah (pesantren).


Menghadapi ujian ini seyogyanya setiap Muslim dituntut untuk tetap
istiqamah di dalam ketaatannya kepada Allah SWT, tidak menyimpang sedikit
pun dari jalan-Nya, dan malah harus semakin mendekatkan diri (*taqarrub*)
kepada-Nya. Sebab, istiqamah dalam ketaatan kepada Allah SWT dan
*taqarrub*kepada-Nya akan menjadi pintu baginya untuk meraih sukses di
dunia dan akhirat.

*Pentingnya Istiqamah *

Sejak Baginda Nabi saw. memulai dakwah secara terang-terangan di Makkah,
orang-orang kafir mulai memutar otak untuk mencari cara—dari mulai yang
paling halus hingga yang paling kasar dan kejam—untuk menggagalkan dakwah
Nabi saw. Mula-mula mereka melontarkan isu bahwa Muhammad saw. adalah orang
gila. Lalu beliau juga dituduh sebagai penyihir yang bisa memecah-belah
bangsa Arab. Tujuannya, agar orang-orang Arab tidak mendekati, apalagi
mendengarkan kata-kata Muhammad. Itulah ujian yang pertama dan paling ringan
yang dialami Baginda Rasulullah saw.


Tatkala Quraisy melihat bahwa Muhammad tidak berpaling sedikitpun dari
jalan dakwah, mereka lalu berpikir keras untuk membenamkan dakwah Muhammad
saw. dengan berbagai cara yang lebih keras. Secara ringkas ada empat cara
yang mereka lakukan: mengolok-olok, mendustakan dan melecehkan Rasul;
membangkitkan keragu-raguan terhadap ajaran Rasul dan melancarkan propaganda
dusta; menentang al-Quran dan mendorong manusia untuk menyibukkan diri
menentang al-Quran; menyodorkan beberapa bentuk penawaran agar Rasul mau
berkompromi, yang tujuan akhirnya adalah menyimpangkan bahkan menghentikan
dakwah beliau (Syaikh Shafiy ar-Rahman al-Mubarakfuri, *ar-Rahîq al-Makhtûm*
).

Akan tetapi, semua cara ini pun gagal. Namun, kaum Kafir tidak mengendorkan
kesungguhan untuk memerangi Islam serta menyiksa Rasul-Nya dan orang-orang
yang masuk Islam. Fitnah dan ujian juga dilakukan terhadap Baginda Nabi saw.
oleh Abu Lahab dan istrinya, Abu Jahal dan istrinya, Uqbah bin Abi Mu’ith,
Adi bin Hamra‘ ats-Tsaqafi dan Ibn al-Ahda‘ al-Huzali. Salah seorang dari
mereka pernah melempar Nabi saw. dengan isi perut domba yang baru disembelih
saat beliau sedang shalat. Uqbah bin Abi Mu’ith bahkan pernah meludahi wajah
Nabi saw. Utaibah bin Abi Lahab pernah menyerang Nabi saw. Uqbah bin Abi
Mu’ith pernah menginjak pundak beliau yang mulia. Semua itu dialami Baginda
Rasulullah saw., betapapun mulianya kedudukan dan kepribadian beliau di
tengah-tengah masyarakat.


Karena itu, wajar jika para Sahabat beliau, apalagi orang-orang lemah di
antara mereka, juga mendapat banyak gangguan atau siksaan, yang tak kalah
kejam dan mengerikan. Paman Utsman bin Affan, misalnya, pernah diselubungi
tikar dari daun kurma dan diasapi dari bawahnya. Ketika Ibu Mushab bin Umair
mengetahui bahwa anaknya masuk Islam, ia tidak memberi makan anaknya dan
mengusirnya dari rumah—padahal ia sebelumnya termasuk orang yang paling enak
hidupnya—sampai kulit Mushab mengelupas. Bilal bin Rabbah juga pernah
disiksa secara kejam oleh Umayah bin Khalaf al-Jam*h*i. Lehernya diikat,
lalu ia diserahkan kepada anak-anak untuk dibawa berkeliling mengelilingi
sebuah bukit di Makkah. Bilal juga dipaksa untuk duduk di bawah terik
matahari dalam kelaparan, kemudian sebuah batu besar di diletakkan dadanya.


Hal yang sama menimpa keluarga Yasir ra, bahkan lebih tragis. Abu Jahal
menyeret mereka ke tengah padang pasir yang panas membara dan menyiksa
mereka dengan kejam. Yasir ra. meninggal dunia ketika disiksa. Istrinya,
Sumayyah (ibu ’Ammar), juga menjadi *syahidah* setelah Abu Jahal menancapkan
tombak di duburnya. Siksaan terhadap Ammar bin Yasir juga semakin keras.
(Ibn Hisyam, *Sîrah Ibn Hisyam*, 1/319; Muhammad al-Ghazaliy, *Fiqh as-Sîrah
*hlm. 82.


Meski mengalami semua makar dan kekejaman yang dilakukan orang-orang Kafir,
Rasulullah saw. dan para Sahabat beliau tetap berpegang teguh pada Islam,
tetap bersabar dan tetap istiqamah di jalan dakwah hanya karena satu alasan:
mengharap ridha Allah SWT.


Karena itu, jika hari ini para pengemban dakwah, khususnya di Tanah Air,
sedang diuji dengan fitnah terorisme—dituduh mengancam negara, diawasi
bahkan diperangi atas nama perang melawan terorisme—maka hal itu sebenarnya
barulah mengalami hal yang paling ringan dari apa yang pernah dialami
Baginda Nabi saw. saat pertama kali. Artinya, jika pun ujian dakwah yang
mereka alami jauh lebih sadis dari sekadar fitnah/tuduhan palsu, maka tak
usah khawatir. Sebab, Nabi saw. dan para Sahabat pun—yang notabene para wali
Allah sekaligus kekasih-Nya—pernah mengalaminya.


Karena itu, istiqamah di jalan dakwah adalah hal yang sebetulnya
wajar-wajar saja bagi para pendakwah. Bahkan hanya dengan tetap istiqamahlah
segala permusuhan orang-orang kafir terhadap para pengemban dakwah—yang
notabene adalah para wali (kekasih) Allah—akan bisa dikalahkan. Sebab, Allah
SWT telah berfirman di dalam sebuah hadis *qudsi*, bahwa Dia sendirilah yang
akan memerangi orang-orang yang memerangi para wali (kekasih)-Nya:

*Siapa saja yang memusuhi wali (kekasih)-Ku maka Aku memaklumkan perang
terhadapnya* *(HR al-Bukhari).*

Jika Allah SWT telah memaklumkan perang, maka siapapun yang menjadi
sasarannya pasti akan dikalahkan. Lebih dari itu, jika kaum Muslim dan para
pengemban dakwah tetap istiqamah di jalan-Nya, maka segala makar orang-orang
kafir dan antek-anteknya juga pasti gagal, dan kemenangan dakwah pasti dapat
segera terwujud. Sebab, makar orang-orang kafir dan para pendukung kekufuran
terhadap kaum Muslim pasti akan dibalas oleh Allah sendiri. Allah SWT
berfirman:


*Orang-orang kafir itu membuat makar/tipudaya dan Allah membalas
makar/tipudaya mereka itu. Allah adalah sebaik-baik Pembalas tipudaya* *(QS
Ali Imran [3]: 54).*

*Pentingnya Taqarrub ilâ Allâh*

Selain tetap istiqamah, setiap Muslim, khususnya para pengemban dakwah,
seyogyanya terus berupaya mendekatkan diri (*taqarrub*) kepada Allah SWT.
Dalam lanjutan hadis *qudsi* di atas, Allah SWT berfirman:


*Tidaklah hamba-Ku bertaqarrub kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku sukai
daripada apa yang telah Aku wajibkan kepadanya. Hamba-Ku terus-menerus
bertaqarrub kepada-Ku dengan amalan-amalan nafilah hingga Aku mencintainya.
Jika Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang dengannya ia
mendengar; menjadi penglihatannya yang dengannya ia melihat; menjadi
tangannya yang dengannya ia memegang; menjadi kakinya yang dengannya ia
berjalan. Jika dia meminta kepada-Ku, pasti Aku beri. Jika ia meminta
perlindungan-Ku, pasti Aku lindungi* *(HR al-Bukhari).*


Dari hadis di atas, jelaslah bahwa secara tersurat, kunci bagi setiap
Muslim, khususnya para pengemban dakwah, agar senantiasa permohonannya
dikabulkan, juga agar senantiasa mendapatkan perlindungan Allah SWT, adalah
*taqarrub* (mendekatkan diri) kepada-Nya.


Hanya saja, pengertian *taqarrub* ini tidak boleh dipersempit hanya dalam
tataran ritual atau spiritual semata; apalagi sekadar menjalankan yang
sunnah-sunnah saja, sementara banyak kewajiban lainnya yang ditinggalkan.
Sebab, makna *syar’i* dari *taqarrub ilâ Allâh* adalah melaksanakan ketaatan
kepada Allah dengan menjalankan kewajiban-kewajiban yang telah Allah
tetapkan (*Fath al-Bâri*, XXI/132; *Syarh Muslim*, IX/35; *Al-Muntaqa Syarh
al-Muwaththa`*, 1/499; *Syarh al-Bukhâri li Ibn Bathal*, XX/72). Bahkan *
taqarrub* dengan menjalankan seluruh kewajiban adalah lebih Allah sukai,
apalagi jika ditambah dengan terus-menerus menjalankan hal-hal yang sunnah.


Di antara kewajiban—sebagai bagian dari *taqarrub* yang lebih Allah sukai
itu—adalah berdakwah sekaligus berjuang untuk menegakkan hukum-hukum Allah
SWT di muka bumi. Para ulama bahkan menegaskan bahwa *taqarrub ilâ
Allâh*mencakup menerapkan sistem pemerintahan Islam (Khilafah) dengan
melaksanakan syariah Islam dalam segala aspek kehidupan. Imam Ibnu Taimiyah berkata,
"Wajib menjadikan kepemimpinan [*imârah*] sebagai bagian dari agama dan
jalan mendekatkan diri kepada Allah. Sebab, mendekatkan diri kepada Allah
dalam urusan kepemimpinan dengan jalan menaati Allah dan Rasul-Nya termasuk
*taqarrub* yang paling utama [*min afdhal al-qurubât*]." (*Majmû*’ *al-Fatawa,
*VI/410),

Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali juga menerangkan, "Termasuk kewajiban yang
merupakan *taqarrub ilâ Allâh* adalah mewujudkan keadilan, baik keadilan
secara umum sebagaimana kewajiban seorang penguasa atas rakyatnya, maupun
keadilan secara khusus sebagaimana kewajiban seorang kepala keluarga kepada
istri dan anaknya." (*Jâmi’ al-’Ulum wa al-Hikâm, *XXXVIII/11).


Berdasarkan hadis-hadis di atas, aktivitas menerapkan syariah secara adil
yang dilakukan oleh Khalifah adalah bagian dari *taqarrub ilâ Allâh*. Bahkan
seperti kata Ibnu Taimiyah di atas, menjalankan pemerintahan Islam termasuk
*taqarrub ilâ Allâh* yang paling utama.



Pernyataan Ibnu Taimiyah itu tidaklah mengherankan, sebab hanya dengan
pemerintahan Islam sajalah umat Islam akan dapat menerapkan hukum-hukum
syariah Islam secara *kâffah* (menyeluruh). Sistem pidana Islam, sistem
pendidikan Islam, sistem ekonomi Islam dan sistem-sistem Islam yang lain
tidak mungkin diterapkan tanpa adanya sistem pemerintahan Islam (Khilafah).
Walhasil, eksistensi Khilafah sangat vital, karena hanya dengan
Khilafah *taqarrub ilâ Allâh* akan bisa terlaksana sempurna. Khilafah adalah kunci *taqarrub ilâ Allâh* secara *kâffah*.


Karena itu, memperjuangkan kembali tegakknya Khilafah jelas sengat penting
dilakukan oleh umat Islam, khususnya para pengemban dakwah, sebagai bagian
dari *taqarrub* kepada Allah SWT.


Lebih dari itu, saat seorang Muslim ber-*taqarrub* kepada Allah maka dia
pasti akan dicintai Allah. Orang yang dicintai Allah akan mendapatkan
berbagai balasan yang baik dari Allah, semisal keridhaan dan rahmat Allah;
limpahan rezeki-Nya, taufik-Nya, pertolongan-Nya, dan sebagainya. (Ibn Rajab
al-Hanbali, *Jâmi’ al-’Ulm wa al-Hikâm*, XXXVIII/10-12; *Syarah Muslim*,
X/35).


Walhasil, pada bulan Ramadhan yang mulia ini, marilah kita semua ber-*
ta qarrub* kepada Allah SWT dengan makna yang seluas-luasnya, sebagaimana
terpapar di atas. Dengan semua itu, mudah-mudahan Allah SWT segara
memberikan pertolongan-Nya kepada kita demi terwujudnya ‘*Izzul al-Islâm wa
al-Muslimîn. *Amin*.**[]*

No comments:

Post a Comment