Monday, August 31, 2009

Program Sederhana Ramadhan Ala Syekh Abdullah Azzam

Assalamualaikum wR wB

Disadur dari Al-Rahmah.com


*Syekhul Mujahid, Syekh Abdullah Azzam dalam bukunya At Tarbiyah Al Jihadiyah wal Bina, memberikan nasehat dan beberapa tips untuk mengisi bulan
Ramadhan agar lebih bermakna. Berikut penuturan Beliau.
*

*“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana
diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (Yaitu)
beberapa hari tertentu. Maka barangsiapa di antara kamu sakit atau dalam
perjalanan (lalu tidak berpuasa),maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang
dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Dan bagi orang yang berat
menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin.
Tetapi barang siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan , maka itu
lebih baik baginya, dan puasamu itu lebih baik bagimu jika kamu
mengetahui.” *( QS.Al Baqarah : 183-184)

Puasa, sebagaimana firman Allah, telah ditentukan jumlah harinya. Bahkan
ditentukan jumlah hitungan jamnya. Bulan Ramadhan jumlah jamnya 720 jam,
atau 696 jam, dan di setiap menit dari bulan ini memiliki harga dan nilai.
Kaum Salaf dan para shahabat- Semoga ridho Allah atas mereka- selalu
menantikan hari-hari di bulan Ramadhan dari tahun ke tahun, sebagaimana
diriwayatkan dalam sebuah hadits bahwa para shahabat berkata, ketika datang
bulan Rajab; “Ya Allah, tolonglah kami agar dapat beribadah kepada-Mu di
bulan Rajab dan Sya’ban, dan ijinkan kami untuk bertemu Ramadhan.”

Karena Ramadhan adalah kesempatan tahunan untuk membersihkan jiwa, semangat
dan badan, maka pengaruhnya pada semangat manusia dan badan tidak sebesar
pada jiwa. Aktifitas ibadah dari jiwa banyak jumlahnya, dan sebanyak badan
menerima bagian penderitaan dalam menjalani ibadah ini, badan akan menerima
bagian dari cahaya.
Inilah mengapa jihad menjadi puncak tertinggi Islam, karena jihad paling
tinggi penderitaannya dan aktifitas ibadah yang paling sulit untuk
dilaksanakan. Balasannya paling besar, pengaruhnya bagi jiwa paling dalam
dan hasilnya dalam membangun jiwa dan meningkatkan tauhid sangat besar .

Oleh karena itu ada aktifitas-aktifitas ibadah yang berhubungan dengan harta
benda seseorang. Akan tetapi efek ibadah ini bagi jiwa lebih kecil dibanding
ibadah yang berhubungan/dilakukan dengan tubuh seseorang. Jadi, zakat
memiliki efek yang dalam pada jiwa, karena zakat membersihkan jiwa dari
sifat tamak. Seseorang tidak dapat sungguh-sungguh merasa simpati kepada
fakir miskin, jika tidak merasakan sendiri penderitaan mereka, hidup
sebagaimana mereka hidup dan merasakan kelaparan sebagaimana mereka
kelaparan. Jika anda merasa kelaparan , kemudian tubuh anda merasa menjadai
lebih kuat dan lebih mampu bertahan, maka pada saat itu, anda akan merasakan
kebahagiaan karena dapat mengorbankan sesuatu dan menyucikan diri anda dari
sifat tamak.

Demikian juga dengan jihad; Jihad dengan harta benda seseorang tidak
menyucikan jiwa seseorang sebesar jika jihad itu dilakukan langsung oleh
orang tersebut. Oleh karena itu, Islam tidak membebaskan beberapa shahabat
dari kewajiban jihad secara ikut terjun langsung ke medan jihad, tidak
perduli apapun posisinya dalam masyarakat, dan tidak perduli sebagus apapun
reputasinya, seperti dalam kasus Utsman. r.a.

Kaum Salaf- Semoga ridho Allah atas mereka- akan memperhitungkan Ramadhan
hingga hitungan menit. Mereka akan shalat di belakang Ubayy bin Ka’ab dan
Umar bin Khathab untuk shalat tarawih di belakangnya- dan mereka akan
membutuhkan tongkat untuk menopang tubuh mereka karena berdiri terlalu lama
dalam shalat, dan para shahabat akan berkata; “Kami khawatir akan
ketinggalan sahur karena shalat di belakang Ubayy dan kami khawatir waktu
fajar akan datang, yang menyebabkan kami ketinggalan Makanan yang berkah-
mereka menyebut sahur sebagai makanan yang berkah-jadi, biarlah putra-putri
kita sibuk mempersiapkan makanan ini.”

Diriwayatkan dari beberapa Tabi’in, dan yang datang setelah mereka, yang
berkaitan dengan shalat dan Al Qur’an, bahwa beberapa dari mereka
mengkhatamkan membaca Al Qur’an 60 kali di bulan Ramadhan dan ini khususnya
diriwayatkan berkaitan dengan Imam Asy Syafi’i ; beliau mengkhatamkan bacaan
Al Qur’an sekali di waktu siang dan sekali di waktu malam. Beberapa yang
lain mengkhatamkan bacaan Al Qur’an sekali dalam waktu sehari semalam, dan
yang lain khatam tiap tiga hari sekali, hingga memasuki sepuluh hari
terakhir bulan Ramadhan, dimana mereka akan ber-I’tikaf di masjid,
mengkhatamkan bacaan sekali sehari.

Untuk mengkhatamkan bacaan Al Qur’an sehari sekali adalah mudah,jika kita
meneguhkan niat untuk membaca Al Qur’an secara perlahan (tartil), akan
memakan waktu sekitar 24 jam, dan jika dibaca lebih cepat akan memakan waktu
sekitar 10 jam.

Menjadi mungkin bagi mereka yang hafal Al Qur’an untuk membaca satu juz
dalam 20 menit, sehingga memungkinkannya mengkhatam 30 juz dalam sepuluh
jam.Saya diberi tahu oleh Abu Al Hasan an Nadawi :”Saya telah melihat para
guru saya, dan beberapa diantara mereka tidak berbicara sama sekali selama
bulan Ramadhan. Mereka hanya terkait dengan aktifitas ibadah; baik shalat
maupun Al Qur’an. Jika seseorang mengajak berbicara mereka, mereka akan
menghitung kata-kata mereka dan memperhitungkannya dalam hitungan menit dan
detik.”

*Jadi, Ramadhan terdiri dari puasa dan shalat.*

Oleh karena itu, kaum Salaf, seperti Imam Malik akan ber-I’tikaf hingga
waktu mengajar, seraya berkata; “Sesungguhnya Ramadhan itu untuk shalat dan
membaca Al Qur’an.” Beberapa diantara mereka akan mengatakan; “Ramadhan itu
shalat, beramal shaleh/bersedekah dan membaca Al Qur’an.”

Di bulan Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup,
dan setan-setan dirantai. Ini sesuatu yang sungguh terjadi, sebagaimana
salah seorang teman saya yang dapat dipercaya melakukan kontak dengan
jin-yang kemudian disesalinya- memberi tahu saya; “ Ketika saya bertanya
kepada jin yang saya ingin mendengar beberapa berita, mereka (jin) berkata ;
“Kami tidak aktif di bulan Ramadhan.” Sebelumnya saya berpikir bahwa mereka
jin yang beriman, sehingga mereka shalat dan berpuasa dengan saya. Akan
tetapi setelah mendengar jawaban mereka saya sadar bahwa mereka setan/iblis
(jin kafir).

Kemudian, setelah melewati sebuah eksperimen, saya berketetapan bahwa mereka
adalah jin kafir ; Saya meminta dari mereka satu hari untuk menyembuhkan
kemenakan saya. Mereka mengatakan : “Dia (kemenakan saya) tidak dapat
disembuhkan kecuali dia melanggar larangan (Allah).”

Jadi, saya mengatakan kepada mereka : “Kalian sungguh-sungguh iblis.
Kalian dari jin kafir.”

Mereka berkata : “ Kami dari jin yang beriman.”

Saya berkata : “Mulai sekarang, kita tidak saling punya urusan lagi.”

Mereka berkata : “Kami akan mencelakaimu nanti.”

Saya berkata ;”Saya berani menantang kalian untuk mencoba melukai saya. Kita
akan bertemu tengah malam nanti di kuburan, tempat paling terpencil dan
menakutkan yang bisa saya pikirkan.” Sehingga ketika datang tengah malam,
saya berwudlu dan shalat dua rakaat, lalu pergi ke kuburan. Saya melakukan
hal ini tiga malam berturut-turut, tapi jin-jin itu bahkan tidak bisa
mendekati saya.”

Jadi, hal ini adalah sesuatu yang bersifat fisikal, bukan metaforik atau
kiasan. Setan-setan dirantai dan mereka tidak bisa bergerak bebas dan
menggoda manusia. Jin-jin besar atau pemimpin jin dirantai, sedang jin-jin
kecil dibolehkan berkeliaran.

Ramadhan adalah Ramadhan jihad, jadi, saya menasihati anda semua untuk tidak
meninggalkan satu haripun selama Ramadhan. Waktu itu saya berada di Qatar,
atau Emirates, dan saya diberitahu : “Saudara-saudara kita di Amerika
memanggil, menanyakan apakah anda bisa pergi ke sana dan menghabiskan
sepuluh hari terakhir Ramadhan bersama mereka.” Saya berkata : “Subhanallah
! Saya menghabiskan sepuluh hari terakhir Ramadhan dan meninggalkan
Jalalabad, Qandahar dan Kabul meletus? Satu jam di tempat-tempat tersebut
lebih baik dari pada berdiri shalat selama 60 tahun, dan kenapa saya pergi
dan memasuki Amerika, bahkan di bulan Ramadhan?” Karena itulah, selama kurun
waktu saya tinggal di sini, khususnya dalam lima tahun terakhir, saya
selalu senang menghabiskan setiap Ramadhan di luar Peshawar dan tidak
memasuki Peshawar kecuali ada keperluan mendesak. Saya akan menghabiskan
Ramadhan baik di Kamp Pelatihan di Sada, Jadji atau tempat lain, sehingga
akan tertulis bagi saya sebagai Ramadhan Ribat. Ramadhan di tanah ribat
adalah seribu kali lebih baik dari pada Ramadhan di tempat lain sebagaimana
Hadits Rasulullah saw :

*“Ribat sehari di jalan Allah adalah lebih baik dari pada seribu hari di
tempat lain, bahkan meskipun seseorang (yang tidak ribat) itu puasa di waktu
siang dan shalat sepanjang malam.” ( Diriwayatkan oleh Tirmizi dan An
Nasa’i).*

Jadi, saudara-saudara yang tinggal di Peshawar, Lengkapilah diri kalian
dengan program harian berikut:

Jangan terjaga hingga larut selama Ramadhan, karena Ramadhan adalah waktu
untuk shalat, puasa,dan memohon ampunan Allah di jam-jam di waktu pagi.
Berbuka puasalah di rumah anda dengan kurma atau air, atau di masjid dan
sediakanlah kurma dan air di masjid bagi mereka yang mungkin berbuka di sana
juga. Ada berita bahagia bagi mereka yang menyediakan makanan untuk orang
yang berbuka puasa:

* “Barang siapa menyediakan makanan bagi orang yang berbuka puasa, mereka
akan mendapat pahala yang sama dengan orang yang berpuasa,tanpa mengurangi
pahala orang yang berpuasa tersebut.”* Meskipun Cuma sebutir kurma. Jadi
berlomba-lombalah meraih pahala ini.

Saya sedang berada di Qatar dan beberapa orang dermawan yang senang beramal
shaleh berkata kepada saya : “Kami berharap bisa menyediakan makanan bagi
seribu mujahidin yang sedang berpuasa selama sebulan Ramadhan penuh. Berapa
yang diperlukan masing-masing mujahidin di bulan Ramadhan?” Saya berkata:
“Masing-masing memerlukan tiga riyal Qatar atau Dirham.” Seketika sebuak cek
ditulis dengan angka 90.000 Riyal Qatar sambil dikatakan : “Ini biaya makan
bagi seribu mujahidin di Jalalabad, dan saya minta anda bersiap-siap
membawanya.” Ketika uangnya tiba keesokan harinya, saya begitu terkejut
menerima telepon yang mengatakan kepada saya: “Uang untuk biaya makan dua
ribu mujahidin yang lain sedang dalam perjalanan. Belikan beras dan daging,
karena itu makanan terbaik.”

Laksanakan program ini, dan ini mudah: Berbuka puasalah di masjid, kemudian
shalat maghrib. Pulang ke rumah, makan sebanyak yang Allah inginkan untuk
dimakan, setelah itu membaca istighfar sambil menunggu waktu shalat isya’.
Setelah itu shalat isya’ dan tarawih di masjid, kemudian pulang ke rumah.
Makan sahur dan istimewakan saat tersebut. Sebagai tambahan, sahur adalah
makanan yang berkah. Waktu paling baik untuk membaca istighfar adalah pada
jam-jam pertama di awal pagi ( sebelum fajar).

Jadi, setelah makan sahur, segeralah berwudlu dan laksanakan beberapa rakaat
shalat tahajud, dan dekatkanlah diri anda kepada Allah Pemilik Kejayaan:
Allah menundukkan surga pada posisi terendah pada sepertiga malam terakhir,
bertanya: Barang siapa memanggil-Ku maka Aku menjawabnya, Barang siapa
meminta kepada-Ku maka Aku kabulkan, Barang siapa memohon ampun maka Aku
ampuni.”

Jadi,ambillah keuntungan dari waktu ini- jam-jam di awal pagi- dimana
jawaban permohonan pasti (dikabulkan Allah Ta’ala).

*“(Juga) orang yang sabar, orang yang benar, orang yang taat,orang yang
menginfakkan hartanya, dan orang yang memohon ampunan pada waktu sebelum
fajar.”* ( QS. Ali Imron :17 )

*“ Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan pada akhir malam mereka
memohon ampunan (kepada Allah).”* ( QS. Adz Dzariyat : 17-18 )

Jadi, ketika waktu fajar tiba, pergilah ke masjid dan shalatlah di sana.
Cobalah, jika anda tidak memiliki pekerjaan, untuk tidak tidur di waktu
antara Fajar dan matahari terbit:

* “Bagiku duduk dengan sekelompok jamaah setelah shalat shubuh,mengingat
Allah- Yang Maha Kuasa dan Maha Agung-hingga matahari terbit lebih aku sukai
dari pada membebaskan empat budak dari anak keturunan Ismail…”.
(Diriwayatkan oleh Abu Dawud).*

Setelah itu, beristirahatlah hingga tengah hari.Dari tengah hari hingga
waktu Asyar, penuhilah keperluan keluarga anda. Secara umum kurangilah
makan, minum dan memakan yang manis-manis, ingatlah bahwa anda dikelilingi
para janda, anak-anak yatim yang tidak bisa mendapatkan makanan. Bagilah
makanan yang manis, roti dan nasi anda untuk mereka.

Istri anda juga perlu membersihkan jiwanya dan ingin membaca Al Qur’an dan
beribadah. Tugas untuk mempersiapkan makanan telah memenuhi pikirannya
sebagai tugas esensial di bulan Ramadhan,memenuhi pikiran dari membaca
istighfar,membaca Al Qur’an dan beribadah. Jadi, jika anda shalat Asyar dan
tidak sibuk dengan kewajiban lain, I’tikaflah di masjid hingga matahari
terbenam dan mengkhusyukkan diri membaca Al Qur’an:…

*”Bagiku duduk bersama sekelompok orang setelah shalat Asyar, untuk
mengingat Allah- Yang Maha Kuasa dan Maha Agung- hingga matahari terbenam
lebih kucintai dari pada membebaskan empat budak dari keturunan Isma’il.”*

Jadi, ketika datang waktu maghrib, shalat maghrib dan pulanglah ke rumah.

Ini adalah sebuah program yang dapat diikuti oleh siapapun, sebagian besar
atau seluruhnya. Perhatikan hari-hari dalam bulan Ramadhan, khususnya
jam-jam selama bulan ini. Di bulan Ramadhan, tidak ada waktu untuk “
katanya”, “ kata si Anu”, atau nonton televisi, atau ngobrol bertetangga.
Jangan saling mengunjungi di malam hari selama bulan Ramadhan, karena ini
membuang-buang waktu yang penuh berkah. Ada masjid yang dapat anda gunakan
untuk bertemu atau bercakap-cakap setelah shalat tarawih atau ketika ada
saudara kita yang punya keperluan kepada kita. Tempat bertemu anda di masjid
dan tempat datang anda adalah masjid. Jangan penuhi pikiran orang lain
dengan kedatangan anda di rumah mereka pada malam hari di bulan Ramadhan….”

(arrahmah.com)

No comments:

Post a Comment