Monday, August 3, 2009

Rahasia Tarikh Lahir?!! No Way!!!

Bismillahirrahmanir rahiim,

Assalamualaikum wR wB


SUBHANALLAH! !! PAGI!!!


Saudara, artikel ringkas ini saya tuliskan, karena masih ada saudara kita yang kurang memahami “dengan baik” artikel yang terdahulu yang bertajuk : “BAHAGIA DENGAN TAWAKKAL” dan telah saya terbitkan didalam blog saya dengan judul : “BAHAGIA KARENA BERTAWAKKAL”. Semoga tulisan ringkas ini dapat lebih manfaat bagi tuan-tuan yang memiliki waktu luang untuk membaca.

Seorang muslim semestinya berterimakasih dan bergembira juga berbangga kerana tuhan mereka adalah Allah swt, karena agama mereka adalah Islam, karena nabi mereka adalah nabi Muhammad saw.

Mengapa harus bersikap demikian? Karena Allah swt tidak pernah menzalimi apa dan siapapun dilangit dan dibumi ini, karena Islam akal fikiran kita tidak “diperbudak” dan tidak pula “diperbodohkan”, karena Muhammad saw kita ber-tuhankan Allah swt dan ber-agamakan Islam.



Namun demikian, masih ada diantara umat ini yang merasa dirinya dizalimi oleh Allah swt ataupun mereka beranggapan Allah swt tidak adil!!! (na’udzubillahi min dzalik).


Ketika ditanyakan apa sebab saudara ataupun saudari berpendapat demikian? Mereka menjawab, “karena aku dilahirkan pada hari ini dan tarikh ini, maka bintangkupun menjadi ini kemudian hidupku menjadi begini dan ia sungguh amat sangat tidak menyenangkan! !! Coba seandainya aku dilahirkan pada hari itu dan tarikh itu, maka sudah tentu sekarang aku hidup bahagia dan sentosa!!!”.


Cerita diatas tadi hanyalah sebuah gambaran sebagai akibat dari meyakini ataupun kepercayaan kepada baik buruknya nasib ataupun kepribadian yang didasarkan kepada pengiraan hari lahir dan tarikh yang tidak diajarkan didalam ajaran Islam.


Sikap Kita Sebagai Seorang Muslim


Pertama : Bergembira Karena Bertuhankan Allah swt.


Dahulu dizaman kegelapan umat manusia, manusia telah membuat tuhan-tuhan yang banyak, ada tuhan kegelapan, ada tuhan pemberi rezeki, ada tuhan penyiksa, ada tuhan penabur cinta dan sebagainya. Tuhan-tuhan itu buatan mereka sendiri. Demikianlah yang diceritakan oleh Umar bin Khattab didalam kisahnya tatkala dirinya ditanya oleh seorang sahabat :

“wahai amirul mukminin!!!, apakah gerangan yang menyebabkan dikau tertwa dalam satu masa kemudian dikau menangis pula pada masa yang sama?, maka Umar pun menjawab : Hai saudaraku, tertawanya akan daku, karena teringat olehku disaat-saat jahiliyah ku, disana kami membuat tuhan dari kuih muih (kue-kue), dan setelah kami menyembah tuhan-tuhan kuih itu, maka kami makan kuih muih itu, maka dengan demikian maka kami telah memakan tuhan kami. Adapun menangis akan daku karena dizaman jahiliyahku teringat akan daku perbuatan jahilku yang menguburkan putriku hidup-hidup, dia keringkan peluhku yang tengah menggalikan lubang kubur untuk dirinya”.

Setelah datangnya Islam, kita tidak disuruh menyembah selain kepada tuhan yang Esa yang memiliki seluruh sifat-sifat mulia yang tiada sifat cela padanya. Tuhan yang Maha Kasih dan Maha Pemurah.

Maka wahai saudaraku, bergembiralah karena tuhan yang kita sembah Dialah tuhan yang telah mengharamkan keatas zat-Nya untuk berbuat zalim sebagaimana yang dijelaskan didalam sebuah hadis Qudsi berikut :

عن أبي ذر ، عن النبي صلى الله عليه وسلم ، فيما روى عن الله تبارك وتعالى أنه قال : " يا عبادي إني حرمت الظلم على نفسي ، وجعلته بينكم محرما ، فلا تظالموا

Yang bermaksud :

“Daripada Abu Zar, daripada nabi Muhammad saw, pada apa yang diriwayatkan daripada Allah swt, bahawa Allah swt berfirman : Wahai hamba-hambaku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan keatas zatku untuk berbuat zalim, dan telah Aku jadikan (zalim) itu haram keatas kamu semua, maka janganlah kamu saling menzalimi”. (H.R. Muslim)

Maka wahai saudaraku, bergembiralah karena tuhan yang kita sembah Dialah tuhan yang tidak pernah menzalimi hamba-hambanya, sebagaimana yang dijelaskan didalam surat Ali Imran ayat ke 108 seperti berikut :

(تِلْكَ آيَاتُ اللّهِ نَتْلُوهَا عَلَيْكَ بِالْحَقِّ وَمَا اللّهُ يُرِيدُ ظُلْماً لِّلْعَالَمِينَ) (آل عمران : 108 )

“Itulah ayat-ayat Allah. Kami bacakan ayat-ayat itu kepadamu dengan benar; dan Tiadalah Allah berkehendak untuk Menganiaya hamba-hamba- Nya”. (Q.s. Ali Imran : 108)

Demikian pula yang tertulis pada surat Ghafir ayat ke 31 sebagaimana berikut :

(مِثْلَ دَأْبِ قَوْمِ نُوحٍ وَعَادٍ وَثَمُودَ وَالَّذِينَ مِن بَعْدِهِمْ وَمَا اللَّهُ يُرِيدُ ظُلْماً لِّلْعِبَادِ) (غافر : 31 )

“(yakni) seperti Keadaan kaum Nuh, 'Aad, Tsamud dan orang-orang yang datang sesudah mereka. dan Allah tidak menghendaki berbuat kezaliman terhadap hamba-hamba- Nya”. (Q.s. Ghafir : 31)

Maka wahai saudaraku, bergembiralah karena tuhan yang kita sembah Dialah tuhan yang sangat kasih dan sangat sayang terhadapmu, sebagaimana yang dijelaskan didalam surat al-Nisa ayat ke 29 seperti berikut :

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَأْكُلُواْ أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلاَّ أَن تَكُونَ تِجَارَةً عَن تَرَاضٍ مِّنكُمْ وَلاَ تَقْتُلُواْ أَنفُسَكُمْ إِنَّ اللّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيماً) (النساء : 29 )

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang Berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu; Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu”. (Q.S. Al-Nisa : 29)

Maka wahai saudaraku, bergembiralah karena tuhan yang kita sembah Dialah tuhan yang sangat kasih dan sangat menerima taubatmu, sebagaimana yang dijelaskan didalam surat al-Nisa ayat ke 16 seperti berikut :

(إِنَّ اللّهَ كَانَ تَوَّاباً رَّحِيماً) (النساء : 16 )

“Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”.(Q.s. al-Nisa : 16)

(وَاسْتَغْفِرِ اللّهَ إِنَّ اللّهَ كَانَ غَفُوراً رَّحِيماً) (النساء : 106 )

“Dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Q.s. Al-Nisa : 106)

Maka wahai saudaraku, bergembiralah karena tuhan yang kita sembah Dialah tuhan yang tidak pernah memberimu satu bebanan melainkan didasarkan kepada “kemampuan”mu, sebagaimana yang dijelaskan didalam surat al-Baqarah ayat ke 233 seperti berikut :

(لاَ تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلاَّ وُسْعَهَا) (البقرة : 233 )

“seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya”. (Q.s. Al-Baqarah : 233)

Demikian juga seperti yang tertulis pada surat al-Baqarah ayat ke 286 berikut :

(لاَ يُكَلِّفُ اللّهُ نَفْساً إِلاَّ وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ) (البقرة : 286 )

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya”.(Q.s. Al-Baqarah : 286)

Demikianlah pula yang disebutkan didalam surat al-An’am ayat ke 152, al-A’raf ayat ke 42 dan surah al-Mukminun ayat ke 62.

Maka atas sebab apa kita tidak bergembira karena bertuhankan Allah swt?

*Dalam artikel yang saya inginkan “sifatnya” pendek dan jelas ini, maka saya ceritakan tentang kebesaran-kebesaran Allah swt ini.


Kedua : Berbangga karena beragama Islam

Sebelum datang Islam kemuka bumi, masyarakat Arab jahiliyah meyakini tamaa im (azimat) dan tathayyur (nasib malang) untuk itu mereka mendatangi para dukun agar diberikan azimat ataupun penangkal, demikian pula jika mereka akan berniaga, bermusafir kesuatu negeri dan sebagainya, jika tiba-tiba ada seekor burung yang terbang disebelah kiri mereka, maka mereka “urung” (membatalkan) niat tadi. Maka akal umat manusia dikala itu telah “diperbodohkan” oleh para dukun dan mereka “diperjahilkan” akal mereka oleh seekor burung yang terbang disebelah kiri mereka.

Kita tidak ingin akal itu menjadi buta, kita juga tidak ingin akal itu menjadi dungu, kita juga tidak ingin akal itu menjadi pak pandir, kita juga tidak ingin akal itu menjadi pak turut, kita juga tidak ingin akal itu menjadi pekak, kita juga tidak ingin akal itu menjadi budak nafsu dan segala macam wasangka, kerana wasangka dan perasaan itu tidak dapat dijadikan dalil yang hak dan kuat.

Dengan datangnya Islam, maka akal itu dikembalikan kepada kedudukannya yang mulia, yiaitu untuk menilai mana yang benar dan yang tidak benar. Maka manusia ketika sudah menggunakan akal fikirannya, tinggilah harkat dan martabatnya, agunglah cita-cita hidupnya, tinggilah cita rasanya, sedaplah sentuhan nuraninya.

Maka atas sebab apa kita tidak berbangga menjadi seorang muslim?

Ketiga : Berterimakasih karena Muhammad saw nabi kita.

Sudah semestinya kita berterimakasih kepada Allah swt yang mengutuskan seorang nabi yang ummiy sangatlah kasih kepada umatnya sangatlah tinggi akhlaknya, sangatlah mulia pekertinya dan sebagai rahmatan bagi seluruh alam raya. Demikianlah firman Allah swt didalam al-Quran yang menggambarkan keutamaan sang nabi akhir zaman ini.

(لَقَدْ جَاءكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ) (التوبة : 128 )

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, Amat belas kasihan lagi Penyayang terhadap orang-orang mukmin”. (Q.s. al-Taubah : 128)

(وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ) (القلم : 4 )

“dan Sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung”. (Q.s al-Qalam : 4)

(وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ) (الأنبياء : 107 )

“Dan Tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”. (Q.s. al-Anbiya : 107)

Dialah nabi yang bersedia menanggung bebananmu. Dialah nabi yang menyebut-nyebut namamu hingga menjelang ajalnya. Dialah nabi yang membalas lemparan batumu dengan kesabaran, dialah nabi yang membalas cemoohanmu dengan senyuman.


Kepribadian Ditentukan Oleh Tarikh Lahir? NO WAY!!!

Kelahiran anak manusia kemuka bumi bukan sebuah permaian dan bukan perkara yang sifatnya main-main. Tetapi terlahirnya anak manusia kemuka bumi dengan satu tujuan dan urusan yang sangat besar dan sangat amat mulia yaitu sebagai “KHALIFAH”-Nya, sehinggakan para malaikat itu cemburu melihat Adam as lah yang akan mengimarahkan muka bumi ini. Demikianlah firman Allah swt didalam al-Quran surah al-Baqarah ayat ke 30 seperti berikut :

(وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُواْ أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاء وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لاَ تَعْلَمُونَ) (البقرة : 30 )

Yang bermaksud :

“Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. (Q.s. al-Baqarah : 30)

Demikianlah mulianya manusia disisi Allah swt bukan para malaikat itu yang dijadikan peng-imarah muka bumi dan bukan pula para Iblis ataupun jin. Demikian pulalah sebab hasad dengki Iblis kepada nabi Adam as dan kepada anak cucunya hingga berlakunya hari kiamat.

Kelahiran anak manusia ini mustahil disamaratakan atau diserempakkan hari atau tarikh lahirnya, kalau yang demikian itu terjadi maka akan hilanglah sifat kuasa Allah swt (al-Qadiir) yang dapat berbuat segala suatu tanpa ada yang dapat menghalangnya (al-Iradah). Maka atas kehendak Allah swt jugalah kita dilahirkan pada hari sekian dan tarikh sekian tanpa ada sebab tertentu dan tanpa ada tujuan tertentu. Semua dilahirkan kemuka bumi dengan tujuan yang sama “KHALIFAH” yang sama mulia dan derajatnya. Allah swt berfirman :

(لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ) (التين : 4 )

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”. (Q.s. al-Tiin : 4)

Demikianlah Allah swt telah “resmikan” bahawa kita ini makhluk-Nya yang paling mulia. Dalam hal ini,Rasulullah saw telah bersabda didalam sebuah hadis berikut :

عن أبي هريرة رضي الله عنه ، قال : قال النبي صلى الله عليه وسلم : " كل مولود يولد على الفطرة ، فأبواه يهودانه ، أو ينصرانه ، أو يمجسانه

Yang bermaksud :

“Daripada Abu Hurairah ra beliau berkata : telah bersabda Rasulullah saw : “ Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci, maka kedua ibubapanya juga yang menjadikan dia seorang Yahudi atau Nasrani atapun Majusi”. (H.R. Bukhari)

Perkataan suci didalam hadis ini sebagian ulama mengatakan maksudnya agama Islam, ada juga yang mengatakan ianya sebagai kemuliaan karena kemuliaan itu hanya ada pada Islam.

Terlepas dari maksud itu semua, jika hendak sejenak befikir akan makna firman Allah swt diatas, “…telah kami ciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”. Maka fahamlah kita akan hakikat diri bahawa inilah kita manusia yang dipilih menjadi makhluk yang paling mulia, paling indah dan paling sempurna ciptaannya.

Lantas, apa sebab kita berlari dari kenyataan ini? Apa sebab kita merusak hakikat ini? Kita menjadi manusia yang celaka hanya karena meyakini baik dan buruk keperibadian itu berawal dari tarikh lahir?! Padahal tadinya kita sudah mulia dan Allah swt telah memerintahkan kita agar berpegang teguh kepada ajaran-ajaran- Nya (al-Quran dan al-Sunnah) demikian pula wasiat sang nabi Muhammad saw, agar manusia itu tetap mulia selama hayatnya.

Namun jika sang Khalifah sudah meninggalkan keduanya, celakalah akibatnya, perbalahan dan pertentangan sebagai akibatnya, akhirnya binasalah seluruh umat manusia.

Firman Allah swt didalam surah al-Nisa ayat ke 82 seperti berikut :

(أَفَلاَ يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللّهِ لَوَجَدُواْ فِيهِ اخْتِلاَفاً كَثِيراً) (النساء : 82 )

“Maka Apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya”.(Q.S. al-Nisa : 82)

Disebutkan didalam tafsir al-Munir yang dikarang oleh DR. Wahbah al-Zuhaily, pengertian makna ayat diatas sebagai berikut :

“Dan Allah swt telah menyuruh mereka untuk mentadabburkan al-Quran sehingga mengertilah akan makna-maknanya yang penuh dengan hikmah dan lafaz-lafaznya yang sempurna, maka Dialah Allah swt yang akan menjamin kebenaran langkah-langkah mereka, dan mereka diberitakan jika mengikutinya tidak akan terjadi keraguan dan kebimbangan karena al-Quran itu datangnya dari Allah swt”.

Namun kita sebagai umat Muhammad saw ini, dalam penerapan keyakinan beragamanya tidaklah tulus dan ikhlas dalam mengamalkannya, kita masih meyakini ajaran “isapan jempol” atau ajaran karut, ajaran yang tidak asas didalam al-Quran maupun sunnah Rasulullah saw, kita lebih cenderung untuk mengikuti ajaran yang diajarkan oleh manusia biasa (walaupun gelarnya sebagai seorang “doctor” ataupun seorang “motivator” yang terkenal) malangnya ajaran itu adalah menilai kepribadian berdasarkan tanggal atau tarikh lahir. Dari sinilah diantara mulanya perpecahan, rusak keimanan dan terpesongnya akidah umat, atas sebab mereka tidak mengambil asas dari al-Quran ataupun sunnah Rasulullah saw. Mereka telah mengajar umat ini untuk meyakini apa yang diyakini oleh orang-orang Hindu ataupun Budha!!!

Manisnya mereka juga berkata : “anda boleh percaya atau tidak, dan anda tidak kami paksa untuk percaya”. Manis betul.

Keimanan dengan rahasia tanggal lahir ataupun tarikh lahir ini, sangat membahayakan akidah dan telah menciptakan manusia-manusia yang tasya um (orang-orang yang berputus asa atau pesimistis) dan lemah.

Coba tuan bayangkan, jika tuan dilahirkan pada tarikh yang buruk menurut para peramal itu, walaupun tuan tidak meyakininya, namun sedikit sebanyak jiwa tuan akan terganggu juga karenanya. Dan ternyata ramalan tarikh lahir itu benar-benar mengena dengan keadaan tuan, maka akan semakin jauh tuan mengutuk diri tuan. Sangat dikhawatirkan jika tuan katakan : “saya memang sudah ditakdirkan untuk menjadi manusia lemah, pengecut dan gagal…Oh apalah guna hidupku ini, mati lebih baik agaknya?!” atau tuan akan mengatakan : “dimanakah keadilan tuhan?! Mengapa aku dilahirkan pada tarikh sial ini?!!!”.

Gambaran diatas saya ulangi lagi agar saudara pembaca lebih menghayatinya. Bahkan dengan ramalan tarikh atau tanggal lahir ini tidak menutup kemungkinan meyebabkan orang-orang mengutuk hari lahirnya. Manakala mengutuk hari itu sama halnya dengan mengutuk Allah swt sendiri!!!

Rasulullah saw bersabda :

عن أبي هريرة ، عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : " لا تسبوا الدهر ، فإن الله هو الدهر "

Yang bermaksud :

Daripada Abu Hurairah ra , daripada nabi saw beliau bersabda : “Janganlah kamu mengutuk waktu, karena sesungguhnya Allah itu adalah waktu”. (H.R. Bukhari Muslim)

Sekarang mari kita lihat kembali kepada surat al-Tiin ayat yang keempat tadi :

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”.

Saudara, betapa anda begitu mulia disisi Allah swt!!!…Betapa anda begitu berharga disisi Allah swt!!!…Betapa anda begitu tinggi disisi Allah swt!!!…Betapa anda begitu indah disisi Allah swt!!! Dan betapa anda begitu hebat disisi Allah swt!!! Maka janganlah dikau hancurkan kedudukan “kemuncak” itu hanya karena anda meyakini nasib anda dengan tarikh lahir!!!

Sungguh jika anda meyakininya, maka hilanglah sikap tawakkal anda terhadap Allah swt, jika hilang sikap tawakkal anda dari dalam diri berkuranglah iman yang tersemai didalam dadamu. Sungguh jika anda meyakininya, rusaklah keimanan yang tersemai didalam dada anda, jika rusak keimanan yang ada didalam dada anda, maka apa bedanya anda dengan mereka yang menyembah berhala itu?

Saudaraku, jangan biarkan diri anda dipermainkan oleh nomor-nomor atau angka-angka, sadarlah dan ketahuilah segera jangan terlalu lama hidup andan dipermainkan oleh nomor-nomor, karena tugas anda sesungguhnya lebih besar daripada memikirkan nomor-nomor lahir anda. Jangan anda di-bodohi oleh mereka yang mengaku pakar dalam urusan ghaib (ahli metafisika) atau seorang pakar motivator yang “perlu” dimotivasi keimanannya itu.


Meyakini Tanggal atau Tarikh Lahir Berdasarkan Persepsi Hukum Islam

Pertama : Dijelaskan didalam kitab “al-Durar al-Sunniyah fi al-Ajwibah al-najdiyah” bab “tabi’ kitab hukm al-murtadd”, syaikh Sulaiman bin Hamdan ditanyakan seoalan berikut :

“Adakah perlu bagi seorang insan meyakini, atau beri’tikad atau menjadi pesimis atau berilusi bahawa dia akan kena pekara yang dapat membahayakan seperti penyakit atau kematian, disebabkan nomor atau tahun, ataupun bulan ataupun hari?

Beliau menjawab :

“Alhamdulillah, tidak dibenarkan seorang insan menjadi pesimis dengan beri’tikad ataupun wasangka buruk bahwa dirinya akan terkena perkara yang membahayakan seperti penyakit ataupun kematian, ataupun selain itu sebagai sebab dari benda-benda yang disebut diatas. Ataupun disebabkan benda selain itu dan tidak boleh mempercayainya bahkan perkara seperti ini termasuk ramalan yang dilarang, dan perbuatan demikian termasuk kedalam perbuatan ahli syirik atau ahli kafir, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Allah swt didalam kitab-Nya seperti kaum Fir’aun, dan kaum nabi Soleh as, dan orang-orang kampung yang datang kepadanya utusan-utusan, dan dari perkara-perkara jahiliyah serta adat kebiasaan yang telah datang kepadanya Islam untuk membatalkannya dan mengharamkannya”.

Kedua : Dijelaskan didalam kitab “al-Mausuu’ah al-fiqhiyah al-Kuwaitiyah” bab “al-Tathayyur”, bahwa al-Tathayyur atau menilik nasib sebagai berikut :

"Arab jahiliyyah jika hendak keluar rumah, maka mereka akan menuju tempat burung bersarang, kemudian mereka menggerak-gerakkan sarang burung tersebut. Jika burung tersebut terbang keluar dari sarangnya kearah kanan, maka mereka akan meneruskan niat mereka, dan jika burung itu terbang kesebelah kiri, maka mereka membatalkan niat mereka. Islam telah membatalkan segala amalan itu, dan semua urusan sudah dikembalikan kepada sunnah Allah swt yang tetap, dan kepada kekuasaan-Nya yang syumul, dan kehendak-Nya yang mutlak. Telah dijelaskan didalam atsar sahih : barangsiapa yang dikembalikan oleh seekor burung dari hajatnya, maka dia telah syirik".

Ketiga : Dijelaskan didalam kitab “Takmilat al-Fatawa al-Mauqi’” bab nomor ke “97221” sebagai berikut :

"bahwasanya Arab menjadi pesimis karena seekor burung atau karena waktu atau kerana seseorang, ini termasuk syirik sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah saw".

Keempat : Dijelaskan didalam kitab “fatawa Islam su aalun wa jawaabun” bab “tas alu un khurafat tat’allaqu bi al-zawaj” sebagai berikut :

“ketahuilah bahwa al-Tathayyur menafikan tauhid. Sebab penafian ini disandarkan kepada dua perkara, pertama : karena yang meyakini tathayyur telah memutuskan sikap tawakkalnya kepada Allah swt sebagaimana dia telah bersandar kepada selain-Nya dan yang kedua : bahwa dia telah terikat dengan perkara yang tiada kebenaran padanya atau tiada hakikatnya".

Kelima : Dijelaskan didalam kitab “I’anat al-Mustafiid bisyarhi kitab al-tauhid” bab “man haqqaqa al-Tauhid dakhala al-Jannata bighairi hisaab” dan bab “Maa Jaa a fi al-tathayyur” seperti berikut :

"al-Tathayyur yaitu pesimis yang disebabkan oleh seekor burung ataupun sebab yang lain. Al-Tathayyur merupakan adat orang jahiliyah dahulu, adat ini akan senantiasa ada hingga hari kiamat. Sesiapa yang meyakininya telah syirik".

Keenam : dijelaskan didalam kitab “al-Durar al-Sunniyah fi al-Ajwibah al-Najdiyah” bab “al-Qism al-Akhir min kitab hukm al-Murtadd” seperti berikut :

"diharamkan bersikap pesimis terhadap waktu, baik itu (samada) bulan ataupun tahun, hari ataupun waktu".

Cukup ramai pernyataan para ulama yang menjelaskan hukum meyakini perkara-perkara yang disebut diatas, namun saya tidak cukup waktu untuk menulis secara terperinci pada postingan ini.

Meskipun didalam kitab-kitab tadi tidak disebutkan secara jelas mengenai tarikh lahir, namun perkataan “WAKTU” didalam fatwa-fatwa tadi sudah mengisyaratkan makna yang serupa. Karena tanggal atau tarikh juga termasuk kedalam kategori waktu.

Namun demikian saya berharap apa yang saya sampaikan ini merupakan satu sumbangan karena Allah swt untuk saudara-saudaraku seagama dan seiman, semoga dengan demikian tiada keraguan dan tiada pessimistic didalam mengarungi kehidupan yang indah ini.

Kesimpulan

Saudaraku, sesungguhnya waktu itu adalah Allah swt sendiri, maka janganlah engkau mengutuk waktumu. Janganlah dikau termakan hasutan mereka itu sehingga dikau mengutuk waktumu.

Saudaraku, sesungguhnya Allah swt telah menciptakan dirimu sebagai ciptaan yang paling baik dan sempurna, maka janganlah dikau rusakkan karena hasutan.

Saudaraku, sesungguhnya Allah swt telah meninggikan derajatmu, maka janganlah dikau jatuhkan dikarenakan keyakinanmu yang tidak betul itu.

Saudaraku, sesungguhnya Allah swtg telah memberimu rezeki yang baik-baik, maka janganlah engkau cela.

Saudaraku, sesungguhnya meyakini rahasia tanggal (tarikh) lahir, rasi bintang dan sebagainya akan menyebabkan dirimu mengutuk penciptamu.

Saudaraku, sesungguhnya Allah swt sangat sayang kepadamu, maka apa sebab dikau berlari darinya dan meyakini ramalan makhluknya?

Saudaraku, sesungguhnya engkau tidak diciptakan melainkan untuk menyembah dan taat patuh kepada-Nya, namun mengapa dikau kini berpaling dari ajaran-Nya?

Saudaraku, sesungguhnya engkau diciptakan menjadi “KHALIFAH”-Nya, namun mengapa dikau menafikannya?

Saudaraku, seseungguhnya tugasmu diatas muka bumi ini sangatlah besar dan beratnya, namun mengapa dikau menyibukkan dirimu dengan perkara-perkara yang tiada nilainya disisi Allah swt dan bahkan membahayakan dirimu?

Saudaraku, manakah yang lebih baik menurutmu, perkataan tuhanmu itukah atau perkataan mereka manusia sepertimu?! Maka siapakah yang lebih baik daripada Allah yang telah menciptakan dan memuliakan dirimu?!

Bergembiralah wahai saudaraku, karena tuhan yang engkau sembah adalah Allah swt, berbanggalah wahai saudaraku, karena engkau beragama Islam dan berterimakasihlah wahau saudaraku, karena nabi-mu Muhammad saw.

Demikianlah, semoga manfaat dan maaf bagi mereka yang kurang berkenan. Tiadalah yang daku inginkan, melainkan sebuah perbaikan yang termampu diri ini lakukan. Kalau benar maka dari Allah swt juga datangnya, jika tersalah, maka itulah dari syaithan dan begitulah diri saya yang sarat dengan kekurangan dan kejahilan.

Wassalamu’alaikum wR wB

Masyhuri Masud
IIUM (MIRKH Quran Sunnah)

1 comment: